Pages

 
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Wednesday, 6 March 2013

JANJIKU IBU

0 comments

Ibu….

Hari ini baru saja kudengar suaramu dalam telponku

Setelah sekian lama tak kudengar suaramu yang begitu menyejukkan

Rasanya hari ini begitu menghangatkan kalbuku

Karena berbicara denganmu begitu sangat kunantikan

Ibu…..

Hari ini dari kejauhan anakmu ingin berbicara

Anakmu yang dulu kau berikan kasih sayang kini tlah dewasa

Anakmu tlah mengenal cinta

Anakmu kini kan menjemput permaisuri, anak mantu ibu

Ibu….

Maafkanlah anakmu ini

Mungkin pilihanku tak seperti yang ibu harapkan

Mungkin pilihanku bukanlah seperti yang ibu pinta

Aku tahu ibu, engkau berharap istriku nanti kan mendampingiku juga ibu

Kau berharap menghabiskan usia bersamaku juga keluargaku

Ibu…

Hilangkanlah keraguan dalam pikiranmu itu

Aku tak mungkin salah memilih masa depanku

Hilangkanlah rasa khawatir dalam hatimu ibu

Aku tak mungkin mengecewakan ibu

Ibu…

Kudengar suara lembutmu pecah oleh air mata

Aku tak mau dengar  ibu bersedih, aku tak mau kau menangis ibu

Tak kuasa ku menahan air mata di mataku ini

Lemas tubuh ini dengar suara sayumu ibu

Ibu…

Sekali ini aku berjanji

Aku tak mungkin biarkan kau menangis

Tunggulah aku pulang nanti dengan bahagiaku

Akan ku berikan seluruh bahagiaku hanya untukmu

                                                                                      

Buat ibuku yang berada nan jauh disana, aku rindu sekali padamu, aku rindu bercengkrama dengamu, aku rindu masakan buatanmu, aku rindu semua nasihatmu, aku rindu mencuci telapak kakimu, aku rindu mencium telapak kakimu, duhai ibuu…..

Sebutlah namaku dalam setiap tetesan air mata saat kau bermunajat kepada Nya, anakmu kan selalu ada buatmu. Anakmu kan pulang ibuku sayaaang….

(Cerita kerinduan dari seberang)
Read more...

RINTIHAN BUMI

0 comments
Duhai langit yang selalu menurunkan hujan

Maafkanlah aku, saat ini tak mampu lagi menjaga hujan yang kau turunkan

Hingga dengan hujan ini manusia menjadi tersiksa

Banjir dimana – mana tanah longsor tak tertahan lagi

Maafkanlah aku pula wahai mentari

Aku yang tak mampu lagi menjaga sinar yang kau berikan padaku

Hingga dengan sinarmu, manusia menjadi tersiksa

Tanah yang subur kini tlah mengering bagaikan gurun yang begitu panas.

Aku sudah terlalu tua, aku terlalu lemah menahan beban ini

Sungguh kini kurasakan sakit yang tak mampu ku lukiskan

Sedih bercampur dengan kesal, dihariku yang semakin tua

Ternyata manusia tak mau lagi merawatku

Aku bagaikan yatim piatu dalam hidup ini, tak ada satupun yang peduli dengan keadaanku

Manusia yang seharusnya menjagaku menjadi terlalu serakah

Mereka menebang pohon – pohon yang menjadi nyawa buatku

Mereka masukkan semua kekuatanku kedalam perutnya.

Hingga tulang – tulangku kini menjadi keropos.

Aku mencoba meronta dengan menghadirkan gempa

Namun mereka tak pernah membuka mata

Aku menangis, hingga kutumpahkan segenap air di lautan

Namun mereka tak juga tersadar dengan sedikit penyesalan

Duhai langit, duhai mentari

Mungkin tak lama aku kan tiada

Namun manusia kan tetap pada kesombonganya

Maka sebelum aku hilang nanti kan ku luapkan semua penyakit dalam tubuhku ini

Kan ku tumpahkan darah dalam tubuhku hingga manusiapun kan ikut bersamaku
Read more...

Friday, 22 July 2011

SETETES AIR

0 comments
Ingatlah bahwa di dunia ini kita berawal dari setetes air yang hina. Hingga menjadi manusia yang sempurna seperti ini. Ini tak lain hanyalah karunia Allah subhanahu wata’ala yang ilmunya tak terbatas oleh apapun. Maka dari itu sadarilah bahwa ilmu yang kita miliki tidak lebih hanya bagaikan setetes air yang jatuh di tengah samudera yang sangat luas jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Apabila sudah begitu maka tidak sepantasnyalah kita sebagai manusia untuk menyombongkan diri terhadap ilmu yang dimilikinya. Karena sombong itu adalah sifat setan yang terkutuk.
Coba lihatlah sifat air yang selalu mengalir dari tempat yang tertinggi ke tempat yang lebih rendah. Menandakan sifat air yang selalu rendah hati, jika telah sampai di samudera maka tinggi air akan sama rata, menandakan bahwa kita semua memang sama sebagai makhluk Tuhan. Yang membedakan antara kita dengan yang lain hanyalah ketakwaan kita, sebagaimana perbedaan antara kadar air antara air yang satu dengan air yang lainnya.

Setetes air di ujung dedaunan pagi
Jernih bening tanpa setitik noda
Jika terjatuh oh sejuk rasanya
Bagaikan tersentuh hati oleh cinta

Setetes air di sela – sela pagi
Mengembun putih memeluk hati
Dingin udara menjadi saksi
Selendang putih merangkul sunyi

Setetes air begitu berarti
Tak ada segayung tanpa setetes
Tak ada selaut tanpa setetes
Tak ada hidup tanpa setetes

Setetes air memberkahi bumi
Manusia hidup dengan setetes
Tumbuhan hidup dengan setetes
Binatang hidup dengan setetes

Setetes air kehidupan

By : Deddy Khaled Meshaal
Read more...

Saturday, 16 July 2011

RINDU CAHAYA

0 comments
Aku adalah setitik debu hitam yang melayang di langit angkasa

Berharap cahaya yang bersinar memancar bak permata

Aku telah menghilang tenggelam dalam kekalutan masalalu

Kini, dengan sayapku kucoba bangkit melawan raga

Aku tengah terbang mengitari awan - awan yang bercerita

Demi sepercik cahaya harapan yang berkilat di ujung sana

Berat memang berjalan diantara kaki - kaki yang pincang oleh dosa

Namun langkah mesti berlanjut walau terbata

Kulihat jalan menuju cahaya yang kian mendekat

Sejengkal demi sejengkal asa yang lelah kini mulai menggeliat

Seperti pohon - pohon di tanah kering yang melihat mendung di awan

Bersorak - sorai menyanyikan senandung penantian

Dahagaku seakan tak tertahan ketika gerbang cahaya kian terlihat

Aku begitu khawatir tak cukup waktu tuk membuka pintu itu dan memasukinya

Ingin rasanya kupercepat laju waktu tuk mengurangi penantianku

Namun kakiku terbatas oleh kata sabar yang menggaung di hatiku

Ramadhan oh ramadhan

Aku hanyalah titik hitam yang tak pernah berarti di dunia ini

Namun sungguh aku rindu bertemu denganmu

Bercengkerama denganmu, bermandikan cahayamu
Read more...

RINDU CAHAYA

0 comments
Aku adalah setitik debu hitam yang melayang di langit angkasa

Berharap cahaya yang bersinar memancar bak permata

Aku telah menghilang tenggelam dalam kekalutan masalalu

Kini, dengan sayapku kucoba bangkit melawan raga

Aku tengah terbang mengitari awan - awan yang bercerita

Demi sepercik cahaya harapan yang berkilat di ujung sana

Berat memang berjalan diantara kaki - kaki yang pincang oleh dosa

Namun langkah mesti berlanjut walau terbata

Kulihat jalan menuju cahaya yang kian mendekat

Sejengkal demi sejengkal asa yang lelah kini mulai menggeliat

Seperti pohon - pohon di tanah kering yang melihat mendung di awan

Bersorak - sorai menyanyikan senandung penantian

Dahagaku seakan tak tertahan ketika gerbang cahaya kian terlihat

Aku begitu khawatir tak cukup waktu tuk membuka pintu itu dan memasukinya

Ingin rasanya kupercepat laju waktu tuk mengurangi penantianku

Namun kakiku terbatas oleh kata sabar yang menggaung di hatiku

Ramadhan oh ramadhan

Aku hanyalah titik hitam yang tak pernah berarti di dunia ini

Namun sungguh aku rindu bertemu denganmu

Bercengkerama denganmu, bermandikan cahayamu
Read more...

Monday, 30 May 2011

Jika

0 comments
Rabbi . . .
Jika dia bukan jodohku biarkan aku melupakannya
Jika dia bukan pemilik tulang rusukku biarkan aku merelakannya
Jika dia bukan pemilik nama yang tertulis di lauhul mahfuz ikhlaskan aku menghilangkannya dari hatiku

Rabbi . . .
Mungkin aku terlanjur menyimpan rasa
Mungkin aku terlanjur menaruh asa
Mungkin aku terlanjur menggenggam harap

Tapi Rabbi . . .
Aku sadar aku tak berhak sedikitpun untuk perasaan ini, memikirkannya saja adalah zinah hati
Bagaimana mungkin aku bertahan sekian lama menaruh hati padanya, padahal aku tahu bahkan menggapai bayangnya pun aku tak akan mampu
Bagaimana mungkin gumpalan rasa ini ku pertahankan, bukankan aku tak pernah tahu siapa pemilik tulang rusukku ?

Bukan dia kan ?

Bukan kan ?

Apa yang harus aku lakukan adalah menghilangkannya dari hatiku, membunuh perasaan ini hingga ke akar-akarnya

Tapi bagaimana Rabbi ?

Bagaimana ?

Aku tak sanggup
Tolong aku
Bantu aku
Berikan segenap hatiku untuk kecintaanku pada-Mu Rabbi hingga aku lupa pada cinta-cinta selain-MU

Cinta dunia
Cinta semu
Cinta fana
Cinta yang tak halal
Cinta yang bahkan aku sudah berjanji untuk memberikannya pada dia halalku

Tapi ini bukan Cinta, ini obsesi, ini hanya sebuah rasa, rasa yang sulit ku jelaskan namun sempurna amat menyiksaku

Aku lemah Rabbi
Aku tak kuat
Aku tak bisa terus seperti ini
Bantulah aku melupakannya, bantulah

Ku mohon . . .

(OLEH : Natharenna Najmi Al – Khawarizmi)
Read more...

Saturday, 28 May 2011

RINDU ILAHI

0 comments

RINDU ILAHI

Bissmillaahirrohmaanirrohiim…

Duhai sahabat……..
Ada semai nada menggugah jiwa
Nada itu adalah firman-Nya
Yang tiada bertepi dan tiada meragukan hati

Kini dawai hati mulai bersemi lewat senandung indah penggugah jiwa
Harapan terhujam dalam desir desah diri
Agar kidung ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jiwa
Bila saja kerinduan hati pada illahi dan rosul-nya terpaut dalam butir – butir niat sukma
Maka itu adalah azzam yang tiada tara terteduh dalam fitrah jiwa

Batin ini menjerit memohon ampunan ilahi
Atas titik – titik noda dan busa – busa cinta dunia yang hanyut dalam derai derita jiwa
Ingin hati ini menghapus noda hitam dalam qolbu
Mengubahnya menjadi qolbu yang bening dan penuh cinta

Duhai robbi,,,,,,,
Bimbing diri ini menuju cinta-Mu
Menggapai mahligai mahabbah rosul-Mu
Jadikan getar – getar kidung ini terpatri dalam diri siapapun yang mampu menitiskanya dalam guratan qolbu

Duhai robbi……
Ingin kami memiliki rasa rindu tak terperih akan cinta-Mu
Rindu yang menghanyutkan qolbu untuk selalu mengingat-Mu
Bilakah rindu ini berlabuh dalam pantai kasih-mu

Sahabat……..
Mari kita renungkan, setiap syair kerinduan dawai hati
Semoga rindu kita pada illahi semakin dalam dan tak terkalahkan
Dari rasa rindu terhadap makhluk-Nya

Rindu hatiku pada-mu robbi
Ingin ku berjumpa dengan-Mu
Apakah amal dan nista diri
Belenggu bertemu dengan-Mu

Adakah rindu dekat dengan-Mu
Menentram batin jiwaku….



Rindu…rindu….rindu pada ilahii…
Rindu hati ini pada-mu robbi
Tiadalah yang dapat menandingi
Segala puja kuasamu robbi

Ampunkan segala dosa dan nista
Yang tersembunyi atau yang nyata
Pada siapa lagi kami meminta
Selain engkau yang kuasa….

Ubahlah nista jadi mulia
Ubahlah dusta jadi maghfiroh
Lindungi hamba dari segala
Berkata dusta dan nista.

By: Dawai Hati



Read more...

Friday, 27 May 2011

SUNGAI KINI

0 comments
Lihatlah tubuhku……

Aku ini bagaikan ular yang tak pernah tersentuh oleh air dalam setahun

Tubuhku sangat kotor., tubuhku belang – belang penuh dengan luka

Aku sungguh tak menyangka mereka begitu setega ini ama aku

Aku sungguh – sungguh tak menyangka.

Setiap pagi dan sore mereka yang berdiam disamping tubuhku

Dengan seenaknya membuang segala kotoran dan sampah ke tubuhku.

Lihat! Lihatlah padaku saat ini

Kaleng – kaleng minuman hingga plastik – plastik berjalan dalam lambungku

Aku begitu kenyang rasanya memakan semua hal yang mereka berikan padaku

Rasanya aku sudah mulai mual, perutku sudah tak mampu lagi menahan limbah ini

Rasanya ingin kumuntahkan semua isi perutku ini

Oh.. betapa bahagianya aku, hujan kini tlah tiba

Aku bisa membersihkan tubuhku dari kotoran yang membuatku jijik

Akan ku basuh tubuh ini hingga gatal yang kupendam selama ini hilang

Terimakasih hujan, dengan kedatanganmu kini aku tlah bersih

Meski ku melihat manusia mulai kebingungan terkena kotoran yang merekan simpan sendiri dalam perutku ini

Kini ku kembalikan semua tabungan mereka.

Ku dengar dalam jeritan mereka

Banjir…. Banjir…. Banjir….!
Read more...

Wednesday, 25 May 2011

RINTIHAN BUMI

2 comments


Duhai langit yang selalu menurunkan hujan
Maafkanlah aku, saat ini tak mampu lagi menjaga hujan yang kau turunkan
Hingga dengan hujan ini manusia menjadi tersiksa
Banjir dimana – mana tanah longsor tak tertahan lagi

Maafkanlah aku pula wahai mentari
Aku yang tak mampu lagi menjaga sinar yang kau berikan padaku
Hingga dengan sinarmu, manusia menjadi tersiksa
Tanah yang subur kini tlah mengering bagaikan gurun yang begitu panas.

Aku sudah terlalu tua, aku terlalu lemah menahan beban ini
Sungguh kini kurasakan sakit yang tak mampu ku lukiskan
Sedih bercampur dengan kesal, dihariku yang semakin tua
Ternyata manusia tak mau lagi merawatku

Aku bagaikan yatim piatu dalam hidup ini, tak ada satupun yang peduli dengan keadaanku
Manusia yang seharusnya menjagaku menjadi terlalu serakah
Mereka menebang pohon – pohon yang menjadi nyawa buatku
Mereka masukkan semua kekuatanku kedalam perutnya.
Hingga tulang – tulangku kini menjadi keropos.

Aku mencoba meronta dengan menghadirkan gempa
Namun mereka tak pernah membuka mata
Aku menangis, hingga kutumpahkan segenap air di lautan
Namun mereka tak juga tersadar dengan sedikit penyesalan

Duhai langit, duhai mentari
Mungkin tak lama aku kan tiada
Namun manusia kan tetap pada kesombonganya
Maka sebelum aku hilang nanti kan ku luapkan semua penyakit dalam tubuhku ini
Kan ku tumpahkan darah dalam tubuhku hingga manusiapun kan ikut bersamaku
Read more...