Pages

 
Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Friday, 18 May 2018

JAUHI SIFAT UJUB

0 comments
Ujub ialah PERASAAN kagum atas diri sendiri. Merasa diri HEBAT. Bangga diri. Terpesona dengan kehebatan diri.
Perasaan ujub bisa datang  kapan saja.

Orang yang rajin ibadah merasa kagum dengan ibadahnya.
Orang yang berilmu, kagum dengan ilmunya.
Orang yang cantik, kagum dengan kecantikannya.
Orang yang dermawan, kagum dengan kebaikannya.
Orang berjabatan tinggi, kagum dgn jabatannya.
Orang yg bijak berpidato, kagum dgn pidatonya,
Orang yang berdakwah, kagum dengan dakwahnya.
Orang yang pandai masak, kagum dengan masakannya.
Orang yang pandai menjahit, kagum dengan jahitannya.
Orang yang pandai menghias, kagum dengan hiasannya.

Wahai sahabatku!semua kelebihan atau keistimewaan itu adalah milik Allah dan diberikan Allah kepada manusia.
Sufyan at-Tsauri mengatakan ujub adalah perasaaan kagum pada dirimu sendiri sehingga kamu merasa bahwa kamu lebih mulia dan lebih tinggi dari yang lainnya.

Muthrif rahimahullah telah berkata, “Kalau aku tidur tanpa tahajud dan bangun dalam keadaan menyesal, adalah lebih baik dari aku bertahajud tetapi merasa kagum dengan amalan tahajud tadi.”

Seorang sahabat Nabi Abu Ubaidah al-Jarrah yang menjadi imam. Setelah selesai beliau berkata, “Syaitan sentiasa menghasut aku supaya merasa aku ini lebih hebat dari orang di belakangku. Aku tidak mau jadi imam sampai kapanpun.

Ingatlah, semua kelebihan adalah anugerah dari Allah, oleh karna itu kagumlah hanya kepada Allah, bukan pada diri sendiri.
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."
(Surah An-Nisaa', sebahagian ayat 36)

Nabi saw. bersabda, "Apabila seorang lelaki sedang berjalan dengan memakai baju yang rapi dan rambut yang disisir rapi, menyebabkan dia merasa kagum dengan pakaian dan dandanan rambutnya (perasan ganteng/cantik). Lalu Allah tenggelamkan dia ke dalam muka bumi dan dia terus ditenggelamkan sampai hari kiamat.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Nabi saw. bersabda, "Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang yaitu pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (rasa kagum dengan diri sendiri).”
(HR Al-Bazzar dan Al-Baihaqi)

Imam Nawawi rahimahullah berkata,”ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ujub. siapa saja ujub dengan amalnya sendiri maka akan terhapus amalnya". (Syarh Arba’in)

Semoga tulisan ini bermanfaat buat saya dan para pembaca.
Read more...

Wednesday, 30 April 2014

NEWTON bukan pencetus pertama TEORI GRAVITASI melainkan ABU RAIHAN AL-BIRUNI ilmuwan era KHILAFAH ABASIYAH

0 comments





NEWTON bukan pencetus pertama TEORI GRAVITASI melainkan ABU RAIHAN AL-BIRUNI ilmuwan era KHILAFAH ABASIYAH
Sebagai seorang ilmuwan besar, Al-Biruni banyak menuliskan penemuan-penemuannya. Ia telah menulis lebih dari 200 buku tentang hasil pengamatan dan eksperimennya.
menurut catatan sejarah, ia pernah akan diberi penghargaan berupa ribuan mata uang perak yang dibawa tiga ekor unta oleh Sultan yang berkuasa saat itu, akan tetapi ia menolak. Menurutnya, ia mengabdi kepada ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan demi uang.
Melalui jawabannya tersebut, secara tidak langsung ia mengatakan bahwa ilmu tidak dapat diukur dengan uang. Ia antusias mencari ilmu sebanyak-banyaknya hanya karena Allah. Ia sadar.
Dalam melakukan penelitian ilmiah terhadap alam semesta, Al-Biruni memiliki metode yang khas. Menurutnya, ilmuwan adalah orang yang menggunakan setiap sumber yang ada dalam bentuk aslinya, kemudian melakukan pekerjaan dengan penelitian melalui pengamatan langsung dan percobaan. Metode ini kemudian banyak dijadikan pegangan oleh para ilmuwan selanjutnya.
Ia lahir pada September 973 M di Khawarizm, Turkmenistan. Ia dibesarkan dalam keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan dan juga taat beragama. Sayangnya masa kecil Al-Biruni tidak banyak diketahui sejarah seperti tokoh Islam lainnya. Yang jelas, pria yang bernama lengkap Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni ini sangat gemar belajar sejak kecil.
Beberapa tokoh ulama yang pernah menjadi gurunya sewaktu kecil adalah Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraqi, Syekh Abdusshamad bin Abdusshamad, dan Abu Al-Wafa Al-Buzayani. Berbagai ilmu yang diajarkan kepadanya, adalah ilmu pasti, Astronomi dan ilmu Kedokteran. Tak mengherankan bila ia dikenal sebagai ahli di berbagai bidang sejak masa belia.
Dengan bermodalkan penguasaannya terhadap Bahasa Arab, Yunani dan Sansekerta, Biruni mampu menyerap berbagai ilmu pengetahuan langsung dari sumber aslinya. Hasilnya berbagai karya di bidang Matematika, fisika, Astronomi, Kedokteran, Metafisika, Sastra, ilmu Bumi, dan sejarah pun menambah khasanah ilmu pengetahuan. Bahkan ia juga berhasil menemukan fenomena rotasi bumi dan bumi mengelilingi matahari setiap harinya.
Dengan tekad mendedikasikan dirinya pada ilmu pengetahuan, Al-Biruni melakukan penelitian terhadap semua jenis ilmu yang ada. Karenanya, banyak ahli sejarah yang menganggap ia sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Selain itu, setiap terjun kemasyarakat dan melakukan penelitian, Al-Biruni sangat mudah menyatu dengan lingkungan. Ia pun dikenal sebagai sosok yang penuh toleransi.
Dalam mencari ilmu, ia tidak hanya puas berada di satu wilayah. Ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Asia Tengah dan Persia bagian utara. Bahkan selama dalam perjalanannya melanglang buana itu, Al-Birun pernah berada dalam satu himpunan sarjana muslim lainnya seperti Ibnu Sina di Kurkang, Khawarizm. Setelah berpisah Al-Biruni dan Ibnu Sina tetap menjalin hubungan. Mereka terus mengadakan diskusi atau bertukar pikiran mengenai berbagai gejala alam.
Selama perjalanan hidupnya sampai dengan tahun 1048, Al-Biruni banyak menghasilkan karya tulis, tetapi hanya sekitar 200 buku yang dapat diketahui. Diantaranya adalah Tarikh Al-Hindi (sejarah India) sebagai karya pertama dan terbaik yang pernah ditulis sarjana muslim tentang India. Kemudian buku Tafhim li awal Al-Sina’atu Al-Tanjim, yang mengupas tentang ilmu Geometri, Aritmatika dan Astrologi. Sedangkan khusus Astronomi Al-Biruni menulis buku Al-Qanon al-Mas’udi fi al-Hai’ah wa al-Nujum (teori tentang perbintangan).
Disamping itu, ia juga menulis tentang pengetahuan umum lainnya seperti buku Al-Jamahir fi Ma’rifati al-Juwahir (ilmu pertambangan), As-Syadala fi al-Thib (farmasi dalam ilmu Kedokteran), Al-Maqallid Ilm Al-Hai’ah (tentang perbintangan) serta kitab Al-Kusuf wa Al-Hunud (kitab tentang pandangan orang India mengeanai peristiwa gerhana bulan).
Itu hanya sebagian kecil dari buku-buku karya Al-Biruni yang beredar. Selain itu masih banyak buku lainnya yang dapat dijadikan rujukan. Namun sangat disayangkan, tidak seperti Ibnu Sina, yang pemikirannya telah merambah Eropa. Karya-karya besar Al-Biruni tidak begitu berpengaruh di wilayah barat, karena buku-bukunya baru di terjemahkan ke bahasa-bahasa barat baru pada abad ke 20.
Tur ke India
Dari satu tempat ke tempat yang lain, begitulah perjalanan Al-Biruni. Setelah beberapa lama Al-Biruni menetap di Jurjan, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya, namun setibanya di sana, ia melihat tempat kelahirannya sedang mengalami konflik antar Etnis.
Keadaan itu dimanfaatkan oleh Sultan Mahmud Al-Ghezna untuk melakukan invasi dan menaklukkan Jurjan. Keberhasilan penaklukan ini membawa langkah Al-Biruni, yang memang bekerja untuk Istana, ke India, bersama Sultan. Di India ia banyak melakukan penelitian pada berbagai bidang ilmu. Lagi-lagi ia menghasilkan karya baru, baik itu artikel ilmiah maupun buku.
Sang Sultan pun berhasil membuka kawasan India timur, hal ini dimanfaatkan Al-Biruni untuk menjadikan tempat tersebut sebagai basis baru dakwahnya. Selain itu ia juga memanfaatkan waktu untuk memperlajari adat-istiadat dan perlikau masyarakat setempat. Ia juga memperkenalkan permainan catur ala India ke negeri-negeri Islam.
Ketertarikan Al-Biruni kepada India, terlihat dari hasil karyanya Tahqiq Al-Hindi, yang memberikan penjelasan tentang problem-problem Trigonometri lanjutan. Kemudian Sankhya, yang mengupas asal-usul dan kualitas benda-benda yang memiliki eksistensi. Serta buku yang berjudul Patanial (Yoga Sutra), yang berhubungan dengan kebebasan jiwa. Keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada kedua buku India ini, Al-Biruni memuat secara autentik sejarah akurat invasi Sultan Mahmoud ke India.
Sebagai seorang ilmuwan muslim, segala sesuatu yang dipelajarinya selalu dikaitkan dengan Al-Qur’an. Ia melandaskan semua kegiatannya kepada Islam serta meletakkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menyingkap rahasia alam. Semua hasil karyanya bermuara kepada Allah SWT.
Dalam bukunya, Al-Biruni mengatakan, “Penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita dapat menyimpulkan ke Esaan dan ke Agungan Allah.”
Itulah yang menjadi prinsip Al-Biruni selama melakukan penelitian dan percobaan. Ia sama sekali tidak melepaskan ilmu pengetahuan dari agama. Itu pula sebabnya, ia lebih hebat dibandingkan ilmuwan lainnya pada saat itu. Penguasaannya terhadap berbagai ilmu pengetahuan telah menyebabkan ia dijuluki Ustadz fil Ulum “Guru segala Ilmu.”
Kesuksesannya pada bidang Sains dan ilmu pengetahuan juga membuat banyak orang kagum, termasuk kalangan ilmuwan barat, salah satunya Max Mayerhoff, “Dia adalah seorang yang paling menonjol di seluruh Planet Bima sakti dan para ahli terpelajar sejagat, yang memacu zaman keemasan ilmu pengetahuan Islam.”
Pendapat ini di setujui oleh Sir JN. Sircar seorang sejarawan asal India. Al-Biruni dengan segala kelebihan yang dimilikinya, telah berjasa memberikan pemikirannya untuk kita ketahui dan kita pelajari. Buku-bukunya banyak diterbitkan di Eropa dan tersimpan dengan baik di Musium Escorial, Spanyol.
Al-Biruni wafat dalam usia 75 tahun. Tempat kelahirannya menjadi pilihan untuk menghabiskan sisa hidup dan menghapuskan nafas terakhirnya.
Allah telah memberikan sebuah hidup yang sangat berarti bagi Al-Biruni. Ia adalah orang yang benar-benar menggunakan akal dan pikirannya yang di anugrahkan Allah, untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring. Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.” (Ali Imran: 190-191)
Read more...

Belajar dari Kasus JIS, Evaluasi Total Keberadaan Seluruh Sekolah Asing

0 comments

Belajar dari kasus maraknya predator pedofilia di sekolah milik Amerika Jakarta International School (JIS), Juru Bicara Muslimah HTI Iffah Ainur Rochmah desak pemerintah evaluasi total keberadaan seluruh sekolah asing.
“Jangan ragu segera menutup sekolah asing yang terbukti tidak mengikuti aturan main, dan malah menanamkan nilai, standar dan gaya hidup bertentangan dengan budaya bangsa ini yang mayoritas Muslim,” tegasnya kepada mediaumat.com Jum’at (25/4) melalui surat elektronik.
Menurutnya, menjadi korban pelecehan seksual merupakan secuil masalah dari sekian banyak masalah yang timbul dari keberadaan sekolah-sekolah yang berstandar internasional tersebut.
Iffah juga menegaskan sekolah asing sangat berbahaya lantaran menjadi sarana efektif penanaman nilai dan gaya hidup yang bertentangan dengan agama dan budaya bangsa. Serta menjadi jalan menundukkan kedaulatan melalui loyalitas anak negeri yang diarahkan untuk mengagumi dan menggunakan standar musuh untuk menilai segala sesuatu.
Bahkan, lanjut Iffah, bukan hal baru bila di negeri Muslim sekolah asing melakukan pendangkalan akidah,  pemurtadan, kristenisasi dan sekularisasi, serta menjauhkan kaum Muslim dari Islam, pemikiran dan hukum-hukumnya.
Selanjutnya, menarik anak-anak kaum Muslim ini untuk mengikuti peradaban Barat yang busuk dengan menampakkan bahwa itu adalah dasar kemajuan yang akan menyelamatkan kaum Muslim dari kondisi hidup yang buruk, dan keterbelakangan peradaban.
Iffah juga menyatakan, pelajaran berharga semestinya diambil kamu Muslim dari skenario penghancuran Khilafah Islamiyah oleh Kristen Eropa yang dimulai dari berdirinya ratusan sekolah asing milik Eropa di berbagai wilayah Khilafah. Menggerogoti loyalitas generasi Islam terhadap agamanya hingga mereka rela menempatkan musuh layaknya sahabat kepercayaan.
“Tentu tak boleh kita biarkan negeri Muslim Indonesia yang akan menjadi cikal bakal kembali tegaknya khilafah mengulang sejarah kelam umat Islam tersebut,” pungkasnya.[]
Read more...

Tuesday, 29 April 2014

LOGIKA GOLPUT

0 comments
Rabu, 9 April 2014 pagi. “Mau milih nggak, Bi?” tanya istri saya kepada pembantu di rumah. Hari itu adalah hari coblosan. Wajarlah kita menanyakan soal itu kepada bibi pembantu di rumah. Siapa tahu dia, seperti pembantu lainnya, ingin ikutan “pesta demokrasi”. Apa jawabnya? “Ah, nggak Bu…Buat apa, nanti kalau sudah kepilih juga nggak ingat sama kita,” cetusnya.

++++


Jelas bibi di rumah telah ikut andil terhadap besarnya angka golput dalam Pemilu 2014. Menurut berbagai lembaga survai, angka golput pada Pileg baru lalu mencapai sekitar 34%, naik dari Pemilu sebelumnya yang sekitar 29%. Ada yang mengatakan golput mencapai 37%, bahkan sebenarnya 47%, tetapi karena KPU merevisi jumlah DPT jadi golput aktual menjadi sekitar 37%.

Kita tentu tidak sedang bergembira dengan tingginya angka golput. Bagi saya, tingginya angka golput belumlah mencerminkan apa-apa mengingat banyaknya faktor yang membuat orang tidak memilih.

Sebenarnya golput dalam Pemilu bukanlah gejala aneh. Di AS, yang disebut negara paling demokratis sekalipun, “golput” juga ada. Pemilihan Presiden AS tahun 2012 lalu hanya diikuti oleh sekitar 57%. Artinya, 43% golput. Di Thailand dalam Pemilu Februari lalu, golput malah mencapai lebih dari 53 %. Di Nigeria lebih besar lagi, golput 72%. Dalam 40 tahun terakhir, jumlah partisipasi pemilih dalam Pemilu di berbagai belahan dunia memang terus menurun. Kondisi serupa juga terlihat di Eropa Barat, Jepang dan Amerika Latin. Kenyataan ini bahkan sudah menjadi bahasan tersendiri di antara para pakar ilmu politik dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum hari coblosan, sebenarnya usaha keras sudah dilakukan oleh KPU dan Pemerintah untuk meningkatkan angka partisipasi dalam Pemilu. Berbagai cara telah dilakukan untuk membujuk pemilih datang ke TPS. Namun, bujukan itu sepertinya tidak sepenuhnya mempan. Buktinya, angka golput malah meningkat. Pemilih, seperti bibi di rumah, ternyata memiliki logika sendiri. Logika unik itu pula yang tampaknya terbaca pada hasil Survei Syariah 2014.

Hasil Survei Syariah 2014 yang dilakukan oleh SEM Institute terhadap 1400-an responden di 38 kota besar di seluruh Indonesia menunjukkan 72 persen masyarakat menginginkan tegaknya syariah Islam hingga level berbangsa dan bernegara. Fakta ini diungkap dalam acara Halqah Islam dan Peradaban (HIP) bertema Membaca Trend Opini Publik Tentang Politik Keumatan 2014 yang diselenggarakan di Auditorium Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta pada akhir Februari lalu.

Pengamat Politik LIPI Prof. Ikrar Nusa Bhakti yang menjadi salah satu pembicara ketika itu mengungkapkan kekagetannya terhadap hasil survei itu. Dia juga menyatakan bahwa survei-survei yang selama ini dilakukan, seperti survei capres misalnya, ternyata tidak mampu meng-cover keinginan sebagian besar aspirasi masyarakat. Namun, ia juga menyatakan keheranannya, bila benar 72 persen masyarakat menginginkan syariah, mengapa PBB yang tegas mengusung syariah, juga partai Islam lain, kalah dalam Pemilu?

Soal ketidaknyambungan antara aspirasi umat dengan perolehan partai Islam dalam Pemilu juga disampaikan oleh Amirsyah Tambunan, Wakil Sekjen MUI, yang juga menjadi pembicara dalam forum yang sama. Menurut dia, apa yang ada dalam gagasan belumlah sama dengan tindakan. Maksudnya, bila umat menginginkan syariah mestinya keinginan itu diujudkan dalam dukungan umat terhadap partai Islam, khususnya yang menginginkan tegaknya syariah. Nyatanya, dukungan umat terhadap partai Islam dalam Pemilu 2014 lalu tidaklah sebesar dukungan terhadap syariah. Mesti baru sebatas hasil Hitung Cepat (Quick Count), suara Partai Islam seperti PPP (6,70%) dan PKS (6,90%), dan partai berbasis massa Islam seperti PKB (9,20%) dan PAN (7,50%) kalah dibanding dengan partai nasionalis. PDI-P di urutan nomer 1 dengan 18,90%, disusul Golkar 14,30%, Gerindra 11,80%, Partai Demokrat 9,70%. PBB yang dianggap paling vokal dalam menyuarakan syariah malah hanya mendapat sekitar 1,8%, jauh di bawah ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 3,5%.

Soal ketidaknyambungan antara keinginan dan tindakan umat, dijelaskan oleh Ustadz Rokhmat S. Labib dalam HIP, bahwa itu bukan sepenuhnya salah umat. Mestinya juga harus dipersoalkan kinerja partai politik Islam. Mereka mengaku partai Islam, tetapi acap berpikir dan bertindak tidak islami. Intinya, kinerja partai Islam tidaklah dilihat oleh umat benar-benar mencerminkan sebuah perjuangan Islam, termasuk dalam apa yang disebut usaha untuk penegakan syariah.

Lihatlah, di satu sisi mereka dalam kampanye selalu menyatakan diri sebagai partai harapan umat, rumah besar umat Islam, pejuang aspirasi Islam dan lainnya; lalu umat dibilang pilihlah partai Islam, jangan golput, kalau tidak ingin Indonesia dikuasai oleh pemimpin sekular. Namun, setelah dipilih, mendapat suara sekian persen, kok tidak tampak greget untuk berbuat sesuatu yang sebutlah bernuansa perjuangan Islam. Alih-alih berjuang untuk Islam, partai Islam malah mendukung dan berkoalisi dengan partai sekular. PPP misalnya, yang menyebut dirinya sebagai Rumah Besar Umat Islam, dengan ringan malah berkoalisi dengan Partai Gerindra yang notabene adalah partai nasionalis. Kalau begitu, buat apa umat mendukung partai Islam, kalau toh akhirnya dukungan itu diberikan juga kepada partai nasionalis?

Ketika masa kampanye, umat dibilang pilihlah partai Islam, jangan golput, kalau tidak ingin parlemen diisi oleh orang kafir dan kita dipimpin oleh orang kafir. Namun ternyata, mereka sendirilah yang mencalonkan orang kafir sebagai caleg. Di NTT, misalnya, sebuah partai Islam mencalonkan lebih dari 21 orang kafir sebagai caleg mereka. Dalam Pilkada kota Solo beberapa tahun lalu, partai yang sama juga mencalonkan F.X. Hadi Rudyatmo yang Kristen sebagai wakil walikota bersama Jokowi. Ketika itu mereka menyatakan, tidak mengapa mencalonkan orang kafir karena toh cuma sebagai wakil. Kini sang wakil yang Nasrani itu akhirnya benar-benar menjadi walikota, menggantikan Jokowi yang naik jadi gubernur DKI Jakarta. Jadi, siapa yang telah menjadikan orang kafir sebagai penguasa, mereka sendiri atau umat?

Di sisi lain, hingga tulisan ini dibuat, gagasan untuk membentuk Poros Islam agar bisa mengangkat Capres sendiri yang digerakkan oleh sejumlah tokoh Ormas Islam, makin kabur, kalau tidak boleh disebut kandas. Pasalnya, masing-masing partai Islam atau partai berbasis massa Islam agaknya telah punya agenda sendiri-sendiri, termasuk dengan siapa nantinya bakal berkoalisi. Bila PPP telah mendeklarasikan koalisinya dengan Gerindra, PKB juga menyatakan lebih sreg berkoalisi dengan partai nasionalis. PAN juga tidak mau membuat Poros Islam. Ia lebih senang membentuk Poros Indonesia Raya. Nyatalah, mantra partai apa pun, termasuk partai Islam, tidaklah berbeda: pragmatisme. Kalau Poros Islam akhirnya benar-benar gagal, umat dan tokoh-tokoh ormas Islam yang menjadi penggagasnya, tentu saja akan sangat kecewa.

Di situlah persimpangan antara umat dan tokoh umat, yang biasanya memang bergerak penuh idealisme, dengan elit partai politik yang cenderung pragmatis terjadi. Di situ pula ketidakpaduan persetujuan umat terhadap syariah yang demikian tinggi dengan rendahnya dukungan terhadap partai Islam menemukan penjelasan.

Oleh karena itu, dalam forum HIP tadi saya menyatakan bahwa kita tidak bisa menyalahkan begitu saja bila umat tidak memilih. Itu tak ubahnya seperti orang yang mau membeli mangga. Ia ingin yang segar dan manis. Bila yang dicari tidak ketemu, lalu tidak jadi beli, ya jangan salahkan orang yang tidak mau beli. Jangan salahkan pula bibi di rumah, yang merasa tidak ada gunanya memilih. Seharusnya “penjual mangganya” instropeksi.

**Artikel ini ditulis sebelum ishlah PPP



 
Foto: Logika Golput

Oleh: M. Ismail Yusanto
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia

Rabu, 9 April 2014 pagi. “Mau milih nggak, Bi?” tanya istri saya kepada pembantu di rumah. Hari itu adalah hari coblosan. Wajarlah kita menanyakan soal itu kepada bibi pembantu di rumah. Siapa tahu dia, seperti pembantu lainnya, ingin ikutan “pesta demokrasi”. Apa jawabnya? “Ah, nggak Bu…Buat apa, nanti kalau sudah kepilih juga nggak ingat sama kita,” cetusnya.

++++

Saya tidak tahu berapa banyak orang lain, termasuk pembantu rumah tangga, yang pada Pemilu kemarin berpikiran sama dengan pembantu di rumah saya. Menarik,  “orang kecil” seperti bibi itu ternyata sudah punya logika sendiri tentang kegiatan yang oleh “orang-orang besar” sering disebut “menentukan masa depan bangsa”.  Sebuah logika yang sederhana, tetapi terasa mengena.

Jelas bibi di rumah telah ikut andil terhadap besarnya angka golput dalam Pemilu 2014. Menurut berbagai lembaga survai, angka golput pada Pileg baru lalu mencapai sekitar 34%, naik dari Pemilu sebelumnya yang sekitar 29%. Ada yang mengatakan golput mencapai 37%, bahkan sebenarnya 47%, tetapi karena KPU merevisi jumlah DPT jadi golput aktual menjadi sekitar 37%.

Kita tentu tidak sedang bergembira dengan tingginya angka golput. Bagi saya, tingginya angka golput belumlah mencerminkan apa-apa mengingat banyaknya faktor yang membuat orang tidak memilih.

Sebenarnya golput dalam Pemilu bukanlah gejala aneh. Di AS, yang disebut negara paling demokratis sekalipun, “golput” juga ada. Pemilihan Presiden AS tahun 2012 lalu hanya diikuti oleh sekitar 57%. Artinya, 43% golput. Di Thailand dalam Pemilu Februari lalu, golput malah mencapai lebih dari 53 %. Di Nigeria lebih besar lagi, golput  72%. Dalam 40 tahun terakhir, jumlah partisipasi pemilih dalam Pemilu di berbagai belahan dunia memang terus menurun. Kondisi serupa juga terlihat di Eropa Barat, Jepang dan Amerika Latin. Kenyataan ini bahkan sudah menjadi bahasan tersendiri di antara para pakar ilmu politik dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum hari coblosan, sebenarnya usaha keras sudah dilakukan oleh KPU dan Pemerintah untuk meningkatkan angka partisipasi dalam Pemilu. Berbagai cara telah dilakukan untuk membujuk pemilih datang ke TPS. Namun, bujukan itu sepertinya tidak sepenuhnya mempan. Buktinya, angka golput malah meningkat. Pemilih, seperti bibi di rumah, ternyata memiliki logika sendiri.  Logika unik itu pula yang tampaknya terbaca pada hasil Survei Syariah 2014.

Hasil Survei Syariah 2014 yang dilakukan oleh SEM Institute terhadap 1400-an responden di 38 kota besar di seluruh Indonesia menunjukkan 72 persen masyarakat menginginkan tegaknya syariah Islam hingga level berbangsa dan bernegara. Fakta ini diungkap dalam acara Halqah Islam dan Peradaban (HIP) bertema Membaca Trend Opini Publik Tentang Politik Keumatan 2014 yang diselenggarakan di Auditorium Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta pada akhir Februari lalu.

Pengamat Politik LIPI Prof. Ikrar Nusa Bhakti yang menjadi salah satu pembicara ketika itu mengungkapkan kekagetannya terhadap hasil survei itu. Dia juga menyatakan bahwa survei-survei yang selama ini dilakukan, seperti survei capres misalnya, ternyata tidak mampu meng-cover keinginan sebagian besar aspirasi masyarakat. Namun, ia juga menyatakan keheranannya, bila benar 72 persen masyarakat menginginkan syariah, mengapa PBB yang tegas mengusung syariah, juga partai Islam lain, kalah dalam Pemilu?

Soal ketidaknyambungan antara aspirasi umat dengan perolehan partai Islam dalam Pemilu juga disampaikan oleh Amirsyah Tambunan, Wakil Sekjen MUI, yang juga menjadi pembicara dalam forum yang sama. Menurut dia, apa yang ada dalam gagasan belumlah sama dengan tindakan. Maksudnya, bila umat menginginkan syariah mestinya keinginan itu diujudkan dalam dukungan umat terhadap partai Islam, khususnya yang menginginkan tegaknya syariah. Nyatanya, dukungan umat terhadap partai Islam dalam Pemilu 2014 lalu tidaklah sebesar dukungan terhadap syariah. Mesti baru sebatas hasil Hitung Cepat (Quick Count), suara Partai Islam seperti PPP (6,70%) dan PKS (6,90%), dan partai berbasis massa Islam seperti PKB (9,20%) dan PAN (7,50%)  kalah dibanding dengan partai nasionalis. PDI-P di urutan nomer 1 dengan 18,90%, disusul Golkar 14,30%, Gerindra 11,80%, Partai Demokrat 9,70%. PBB yang dianggap paling vokal dalam menyuarakan syariah malah hanya mendapat sekitar 1,8%, jauh di bawah ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 3,5%.

Soal ketidaknyambungan antara keinginan dan tindakan umat, dijelaskan oleh Ustadz Rokhmat S. Labib dalam HIP, bahwa itu bukan sepenuhnya salah umat. Mestinya juga harus dipersoalkan kinerja partai politik Islam. Mereka mengaku partai Islam, tetapi acap berpikir dan bertindak tidak islami. Intinya, kinerja partai Islam tidaklah dilihat oleh umat benar-benar mencerminkan sebuah perjuangan Islam, termasuk dalam apa yang disebut usaha untuk penegakan syariah.

Lihatlah, di satu sisi mereka dalam kampanye selalu menyatakan diri sebagai partai  harapan umat, rumah besar umat Islam, pejuang aspirasi Islam dan lainnya; lalu umat dibilang pilihlah partai Islam, jangan golput, kalau tidak ingin Indonesia dikuasai oleh pemimpin sekular. Namun, setelah dipilih, mendapat suara sekian persen, kok tidak tampak greget untuk berbuat sesuatu yang sebutlah bernuansa perjuangan Islam. Alih-alih berjuang untuk Islam, partai Islam malah mendukung dan berkoalisi dengan partai sekular. PPP misalnya, yang menyebut dirinya sebagai Rumah Besar Umat Islam, dengan ringan malah  berkoalisi dengan Partai Gerindra yang notabene adalah partai nasionalis. Kalau begitu, buat apa umat mendukung partai Islam, kalau toh akhirnya dukungan itu  diberikan juga kepada partai nasionalis?

Ketika masa kampanye, umat dibilang pilihlah partai Islam, jangan golput, kalau tidak ingin parlemen diisi oleh orang kafir dan kita dipimpin oleh orang kafir. Namun ternyata, mereka sendirilah yang mencalonkan orang kafir sebagai caleg. Di NTT, misalnya, sebuah partai Islam mencalonkan lebih dari 21 orang kafir sebagai caleg mereka. Dalam Pilkada kota Solo beberapa tahun lalu, partai yang sama juga mencalonkan F.X. Hadi Rudyatmo yang Kristen sebagai wakil walikota bersama Jokowi. Ketika itu mereka menyatakan, tidak mengapa mencalonkan orang kafir karena toh cuma sebagai wakil. Kini sang wakil yang Nasrani itu akhirnya benar-benar menjadi walikota, menggantikan Jokowi yang naik jadi gubernur DKI Jakarta. Jadi, siapa yang telah menjadikan orang kafir sebagai penguasa, mereka sendiri atau umat?

Di sisi lain, hingga tulisan ini dibuat, gagasan untuk membentuk Poros Islam agar bisa mengangkat Capres sendiri yang digerakkan oleh sejumlah tokoh Ormas Islam, makin kabur, kalau tidak boleh disebut  kandas. Pasalnya, masing-masing partai Islam atau partai berbasis massa Islam agaknya telah punya agenda sendiri-sendiri, termasuk dengan siapa nantinya bakal berkoalisi. Bila PPP telah mendeklarasikan koalisinya dengan Gerindra, PKB juga menyatakan lebih sreg berkoalisi dengan partai nasionalis. PAN juga tidak mau membuat Poros Islam. Ia lebih senang membentuk Poros Indonesia Raya. Nyatalah, mantra partai apa pun, termasuk partai Islam, tidaklah berbeda: pragmatisme. Kalau Poros Islam akhirnya benar-benar gagal, umat dan tokoh-tokoh ormas Islam yang menjadi penggagasnya, tentu saja akan sangat kecewa.

Di situlah persimpangan antara umat dan tokoh umat, yang biasanya memang bergerak penuh idealisme, dengan elit partai politik yang cenderung pragmatis terjadi. Di situ pula ketidakpaduan persetujuan umat terhadap syariah yang demikian tinggi dengan rendahnya dukungan terhadap partai Islam menemukan penjelasan.

Oleh karena itu, dalam forum HIP tadi saya menyatakan bahwa kita tidak bisa menyalahkan begitu saja bila umat tidak memilih. Itu tak ubahnya seperti orang yang mau membeli mangga. Ia ingin yang segar dan manis. Bila yang dicari tidak ketemu, lalu tidak jadi beli, ya jangan salahkan orang yang tidak mau beli. Jangan salahkan pula bibi di rumah, yang merasa tidak ada gunanya memilih. Seharusnya “penjual mangganya” instropeksi.

**Artikel ini ditulis sebelum ishlah PPP

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
=============================== 

Read more...

Sunday, 7 April 2013

Al - Jazari Bapak Teknik Modern, sebelum barat

0 comments
Al-Jazari adalah insinyur muslim yang berhasil menemukan sederet peralatan teknologi pada abad ke-13. Insinyur bernama lengkap Al-Shaykh Ra’is Al- A`mal Badi`Al-Zaman Abu Al-`Izz ibn Isma`il ibn Al-Razzaz Al-Jazari itu dikenal sebagai penemu robot dan ilmuan yang pertama kali menciptakan komputer analog yang bisa diprogram dalam bentuk Jam Istana.

Al-Jazari adalah insinyur muslim yang cerdas, berasal dari sebelah Utara Mesopotamia yaitu kawasan di utara Irak dan timur laut Syiria. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din Mahmoud.

Kecerdasan Al-Jazari ini lebih dulu unggul dibandingkan tokoh barat, Leonardo Da Vinci yang baru merancang pembuatan robot pada abad ke-14, dan itu pun baru berbentuk desain di atas kertas. Teknologi-teknologi yang telah diciptakan Al Jazari mencapai 50 jenis dan semua ditulis dalam bukunya yang berjudul Kitab Pengetahuan tentang Alat-alat Mekanik. Woow hebaat..!!



Contoh teknologi yang diciptakan Al-Jazari antara lain adalah robot berbentuk sebuah perahu yang terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik. Robot yang terdiri atas dua penabuh drum, seorang peniup harpa, dan pemain suling logam itu diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam acara jamuan minum. Robot-robot tersebut dapat memainkan beragam suara musik yang indah seperti manusia sungguhan! Canggih yah!

Selain itu, Al-Jazari juga berhasil menciptakan sebuah robot pelayan berbentuk manusia yang bertugas untuk menghidangkan air, teh, atau minuman lainnya. Minuman disimpan dalam sebuah penampung air. Dari penampung itu, air dialirkan ke dalam sebuah ember dan setelah tujuh menit mengalir ke sebuah cangkir dan robot itu mengeluarkan minumannya.



Penemuan penting lainnya yang tak kalah menarik adalah pencuci tangan otomatis. Robot pencuci tangan otomatis itu berbentuk seorang wanita yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air. Sistem pencuci tangan yang dikembangkan Al Jazari inilah yang digunakan dalam sistem kerja toilet modern saat ini.


Robot lainnya yang diciptakan Al-Jazari adalah air mancur burung merak yang otomatis bisa bergerak dengan menggunakan tenaga air. Robot ini memudahkan orang saat membersihkan tangan, karena robot burung merak itu akan menawarkan sabut dan handuk secara otomatis.

Teknologi robot yang lainnya yang diciptakan Al Jazari adalah sebuah jam yang dianggap sebagai komputer analog pertama yang dapat diprogram. Alat ini disebut sebagai "Castle Clock" yang mempunyai ketinggian 3,4 m. Jam ini dapat diprogram ulang untuk menjelaskan perubahan panjangnya siang dan malam sepanjang tahun. Al-Jazari juga membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkannya secara otomatis.



Mesin lainnya yang telah diciptakan Al-Jazari adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mesin dan poros engkol. Mesin itu merupakan mesin yang pertama kali menggunakan poros engkol sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Poros engkol merupakan alat yang menjadi inti berbagai mesin dalam dunia modern.

Oleh karena itu, berkat temuan-temuannya yang telah banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, maka Al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Teknik Modern.

Dari berbagai sumber
Read more...

Inilah Al - Jazari

0 comments
Bicara soal robot, tak ayal kita juga akan mengingat Negara Jepang sebagai pelopor industri robot-robot cerdas dewasa ini. Tetapi siapa orang yang pertama kali menemukan sistem robotika modern?
Ibnu Ismail Al Jazari, lahir di Al Jazira, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat. Nama lengkapnya Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, pada abad kedua belas.

hamariweb.com
 
Seperti ayahnya ia bekerja pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari tahun 1174 sampai tahun 1200 sebagai ahli teknik. Di masanya, Al Jazari yang telah mampu menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

Ada pun mesin robot yang diciptakan Al Jazari kala itu berbentuk sebuah perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik; dua penabuh drum, satu pemetik harpa, dan peniup seruling. Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam suatu acara jamuan minum.

Sebagai robot pemain musik, tentu saja mereka pun ahli menghasilkan suara musik yang indah. Misalnya saja, robot penabuh drum dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Jadi, robot itu pun bermain musik seperti manusia sungguhan!

robot musik / en.wikipedia.org
 
Penemuan penting lainnya dari Al Jazari adalah pencuci tangan otomatis. Keran tersebut bekerja otomatis bisa mengeluarkan air tanpa harus diputar. Sistem pencuci tangan yang dikembangkan Al Jazari itu juga digunakan saat ini dalam sistem kerja toilet moderen.

Teknologi yang dikembangkan Al Jazari mencapai 50 jenis dan semua ditulis dalam kitab yang berjudul “The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices”

Seorang ahli teknik Inggris, Donal Hill begitu kagum dengan pencapaian Al Jazari. Ia berpendapat, ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin.”

Replika jam gajah di museum London / freeartlondon.wordpress.com
 
Salah satu karya Al Jazari yang membuat Donald Hill kagum adalah jam gajah – diciptakan sekitar tahun 1206. Cara kerjanya dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Replika jam gajah dapat dilihat saat ini di London Science Museum.

Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad dan enam puluh delapan tahun setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.

Tahukah kamu bahwa menurut Encylopedia of Britanica, Leonardo Da Vinci mendapat banyak pengaruh ilmu dari Al Jazari…
-wikipedia/Zamrud/arrahmah.com-
Read more...

Friday, 13 July 2012

KENDARAAN MANUSIA

0 comments

Di tengah perjalanan pulang menuju ke rumah, seorang pemuda singgah di warung kopi untuk sekedar istirahat dan minum. Kebetulan warung kopi itu dekat dengan jalan raya, sehingga pemuda itu bisa dengan mudah singgah dan memarkirkan motornya di pinggir jalan. Di warung tersebut terdapat beberapa orang yang sedang bercengkerama dengan riangnya. Mereka tengah asik dengan obrolan mereka yang terdengar sepele namun serius. Awalnya pemuda itu tidak begitu tertarik dengan obrolan mereka. Namun lama – kelamaan pemuda itu tertarik juga mendengarkan apa yang mereka utarakan.

Tidak menunggu waktu lama, pemuda itupun langsung minta ijin ikut dalam pembicaraan mereka. Akhirnya pemuda itupun ikut larut dalam obrolan di warung kopi tersebut. Karena merasa telat “nimbrung” maka pemuda tersebut penasaran apa yang sebenarnya dibicarakan mereka.

“Bang, kayaknya asik banget neh,,, ngobrolin apaan sih?” tanya pemuda tersebut dengan wajah keheranan.
“Gini neh tong,, kite ini lagi ngobrolin orang yang katenye pinter,, tapi padahal diye bodo...”
“Emang siapa tuh bang?”
“Itu tuh,, ada orang yang baru kite temui tadi di halte. Katanye die tu orang pinter,, udah tau ilmu agama yang tinggi tapi dia tu sombongnye minta ampunn..”
“Emang dia ngapain bang,, kok dibilang sombong..??”
“Iye,, bukan hanya sombong,, tapi sok tau,, dan kagak mau menerima kebenaran.. die anggep amalnya udah cukup untuk masuk ke surga... padahal masih banyak yang belum dilakukan...”
Pemuda itu semakin penasaran, siapa sebenarnya orang yang dibilang sombong itu. Sambil menyeruput kopi yang sudah disediakan, dia semakin ingin tau lebih dalam.
“Loe kagak usah bingung tong,,, gini neh ceritanye...”
Seorang yang berlogat betawi tersebut menceritakan dengan semangat kepada pemuda tersebut, yang juga didengarkan oleh yang lainnya.
“Ada seorang orang alim yang kepingin pergi ke Surabaya, tapi menurut ane,, dia kagak bakalan sampe ke surabaya... Jangankan ke Surabaya,, Ke Surga juga kagak bakalan nyampe tuh orang alim..”
“Emang kenapa bang”
“Hadeeuuhh,, tong,,tong,,, tu orang alim kan mau pergi ke surabaya, tapi dia kagak tau jalan ke surabaya. Nah kemaren ane kasih tau ke orang alim tersebut. kalau mau pergi ke surabaya, naiknya bis “ini” ongkosnya seratus ribu.”
“Terusss...??”
“Yahh,,, kayak gak tau aje. Tu orang alim yakin banget dengan dzikirnye,,, diye pikir dengan dzikir semua bisa diatasi.... termasuk pergi ke surga,, banyakin dzikir kata diye..”
“Bukannya itu betul bang...?”
“Iye sih,,, dzikir itu perlu,,, tapi kan kite hidup kudu sesuai aturan,, tidak dzikir teruss,,, emang aturan di dunia ini cuman disuruh dzikir?? Kagak kan??...”
“Coba loe bayangin,, tu orang alim setelah ane kasih tau kalau pergi ke surabaya tu mesti naik bis, dan ongkosnye seratus ribu... apa nyang diye lakuin??”
“Apa bang?”
“Ya dzikir terus tiada henti,, diye pergi ke halte bis,, terus diye dzikiiirrr terus kagak ada matinye,, diya pikir dzikir bisa membuat diye nyampe ke surabaya...”
Sambil mencontohkan cara orang alim tadi berdzikir orang betawi tadi menjelaskan.
“Gini neh diye berdzikirnye..

( ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. Ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. Ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. )... 

gituu terusss ampe ndower... Giliran bisnya lewat dan berhenti di halte,,, eeehh orang alim itu kagak mau naik, diye masihh aje berdzikir 

( ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. Ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. Ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. ).....

Gimana mau nyampe tuh orang alim?? Iye kagak tong??”
“Iya juga yah... orang bisnya udah lewat kok dia masih asyik berdzikir. Abang nggak kasih tau kali,, kalo itu tu bis yang ke surabaya...”
“Bahhh... si otong ini gimana,,,, ane udah kasih tau tuh sama orang alim.. hei orang alim,,, itu tuuhh bisnye udah lewat,, kok kagak naik sih??... “
“apa coba jawab orang alim itu?? ,, iya aku tau itu bisnya... tapi aku ndak mau naik,, aku yakin dengan dzikir aku bisa nyampe ke surabaya... gitu jawabnye...”
“Gilaa,, sakti bener tuh orang alim... sekarang udah nyampe apa belum tuh bang??”
“Lo kagak usah tanya deh,,, tuh liat aje orangnye ada di halte sebelah...!!”
Setelah dilihat disana terlihat ada seorang dengan pakaian rapi sedang menghitung tasbihnya seraya berdzikir...

“( ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. Ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. Ke Surabaya naik bis, ongkosnya seratus ribu. )... yaa Allah, ya Allah, sampaikan ke surabaya... yaa Allah,yaa Allah sampaikan ke Surabaya,, ya Allah, yaa Allah sampaikan ku ke Surga...”

Hahaha.... serentak orang – orang yang sedang di warung itu menertawakan cara orang alim tersebut. Namun orang alim tersebut tetep “kekeuh” dengan keyakinannya, bahwa cara yang dia lakukan sudah benar. Andakah??

Tidak terasa waktu sudah menjelang malam, pemuda itu telah larut dalam obrolan yang penuh makna. Akhirnya pemuda tersebut memutuskan untuk pamit pulang. Dalam perjalanan pulang tersebut si pemuda mulai berfikir satu hal. Jika hal ini dikaitkan dengan keadaan umat islam saat ini kayaknya ada benarnya juga obrolan tadi.
Coba bayangkan, betapa banyaknya saat ini umat islam yang sudah mulai meninggalkan syariat islam. Betapa banyaknya umat islam yang menolak jika syariat islam diterapkan. Padahal syariat islam merupakan “kendaraan” yang telah disediakan oleh Allah azza wa jalla agar bisa sampai ke surga. Akan tetapi kebanyakan umat islam telah menolak untuk menaiki kendaraan tersebut dan lebih memilih kendaraan yang lain. Mungkin mereka yang menolak itu karena kebodohan mereka. Akan tetapi bagaimana dengan yang pintar?

Ketika orang – orang yang memiliki pemahaman islam yang diatas rata – rata diminta untuk ikut memperjuangkan syariah islam, mereka juga ada yang menolak. Apakah mereka menolak karena bodoh? Tentu tidak, karena mereka sudah memahami dan membaca Al Qur’an hanya saja mereka sombong. Orang – orang seperti itulah yang dikatakan sombong, yaitu menolak kebenaran. Dia tahu kalau menerapkan syariah islam itu wajib, tapi dia menolak untuk memperjuangkannya. Maka dia termasuk orang yang sombong. Kenapa mereka bisa sombong seperti itu? Banyak sekali alasan, terutama tentang hal duniawi seperti uang, jabatan, wanita, dan kesenangan – kesenangan duniawi lainnya. Naudzubillah..

Akhirnya pemuda itu mendapatkan satu ilmu yang sangat berharga untuk dibawa pulang. Bahwa kita hidup di dunia itu harus sesuai dengan aturan – aturan yang ditetapkan untuk manusia. Jika diperinci kembali maka kendaraan umat manusia di dunia ini ada lima hal menurut jumhur ulama yaitu Halal, Haram, Sunna, Mubah, Makruh. Atau bisa dipersingkat lagi yaitu “Syariat islam”. Jika kita mau selamat di dunia dan akhirat maka naiklah kendaraan tersebut, atau dengan kata lain terapkan syariat islam dalam kehidupan. Dan catatan yang penting adalah, menjalankan syariat islam itu tidak boleh setengah – setengah. Ibarat kata tidak hanya teori saja. Harus langsung di praktikkan.

Percuma kita berdzikir terus setiap habis sholat, atau setiap malam – malam tertentu, bangun malam buat berdzikir namun kita menolak syariat islam ditegakkan dan lebih memilih demokrasi. Sama aja kayak orang alim tadi, tidak bakalan sampai ke surabaya, apalagi ke surga. Karena kita tidak menaiki kendaraan yang sudah disediakan untuk menuju ke surga yaitu syariat islam. Apalagi demokrasi itu bukanlah dari islam. Bisa jatuh ke syirik tuh kalau kita ikut demokrasi. Naudzubillah.

Alhamdulillah sampai juga ke rumah.


“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al Baqarah : 269)





Read more...

Friday, 29 June 2012

TERLALU BERBAIK SANGKA

0 comments
Berbaik sangka merupakan cirri khas umat islam yang baik. Karena dengan berbaik sangka berarti kita telah menunjukan bahwa kita itu percaya dengan seseorang, entah itu keluarga, sahabat, atau orang lain. Biasanya orang akan merasa nyaman berteman dengan orang yang selalu berbaik sangka. Karena kita akan terhindar dari pandangan mata yang penuh kecurigaan, dan kita juga menjadi lebih tenteram berteman dengan orang yang seperti itu.
Bayangkan saja jika kita memiliki sahabat yang selalu menaruh curiga terhadap kita. Maka secara otomatis kita akan merasa tidak nyaman berteman dengan orang yang semacam itu. Kita akan menghindari berteman dengan orang yang semacam itu. Bahkan bisa jadi orang yang memiliki tabiat sering curiga atau sering berpikiran buruk terhadap temannya, dia akan dijauhi oleh teman yang lain. Karena biar bagaimanapun sikap seperti itu tetaplah tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim sejati. Muslim sejati selalu berhusnudzon atau berbaik sangka terhadap sesama muslim.
Akan tetapi kita juga harus pandai mengaplikasikan sikap berbaik sangka kita dengan benar. Artinya dalam hal ini kita juga harus mengerti kapan saatnya berbaik sangka, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis antara sesama muslim.
Suatu hari salah seorang sahabatku bercerita kepadaku. Dia bercerita bahwa dia itu sedang kecewa sekali dengan salah satu sahabatnya. Hal itu dikarenakan salah satu sahabatnya itu telah menggunakan barang miliknya tanpa seijin dari sahabatku itu. Sehingga ketika sahabatku mengetahui bahwa barang miliknya telah dipakai tanpa seijin darinya, maka dia merasa kesal. Sahabatku itu bilang, seandainya temannya itu meminta ijin kepadanya maka itu tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah temannya itu memakai barangnya dengan tanpa seijin dari sahabatku itu. Itulah point pentingnya.
Sesungguhnya kasus serupa juga sering menimpa diriku pribadi. Sering kali sahabatku itu dengan seenaknya memakai barang atau benda – benda yang lainnya itu tanpa seijin dariku. Dalam hatiku sebenarnya ada sedikit perasaan kesal dan marah. Tapi karena itu semua sudah terjadi, maka aku ya hanya bisa diam saja. Seperti sahabatku itu juga. Dan ini juga mungkin menimpa sahabat – sahabat kita yang lain di luar sana. Atau malah ini adalah sudah menjadi kebudayaan kita, jika memakai barang milik orang lain atau teman kita itu tidak meminta ijin terlebih dahulu.
Sebetulnya, mungkin dalam pikiran si pemakai barang yang tanpa ijin itu baik. Mereka itu telah berbaik sangka terhadap kita. Karena mungkin merasa kita adalah teman dekat, sehingga tidak perlu lagi untuk meminta ijin. Atau mereka merasa bahwa kita juga tidak akan marah kok kalau tidak minta ijin. Dari sini aku bisa menarik kesimpulan bahwa mereka itu terlalu berbaik sangka kepada kita. Mereka itu menyangka bahwa kita tidak akan apa – apa meskipun tidak minta ijin. Akan tetapi, mereka tidak pernah berpikir kalau mereka berada pada posisi kita.
Sesungguhnya yang seperti itu kalau menurut aku bukanlah sikap berbaik sangka yang benar. Sikap seperti itu adalah sikap konyol yang ditunjukan oleh setiap pribadi muslim. Jika mereka menyangka bahwa dengan sikap seperti itu kita tidak merasa kesal, maka mereka telah keliru. Mungkin sebagian orang bisa saja menerima keadaan seperti itu. Namun sebagian orang lagi belum tentu bisa menerima keadaan seperti itu. Karena perasaan seseorang itu tidak pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita hindari sikap konyol seperti itu. Karena sikap seperti itu adalah sikap yang bisa menimbulkan perpecahan. Coba bayangkan jika teman kita itu marah dan tak terkendali terhadap kita. Karena kita telah memakai barang miliknya dengan tanpa seijin darinya. Tentu kita yang memang memakainya tidak bisa apa – apa. Yang bisanya cuman minta maaf. Iya kalau dimaafkan, kalau tidak?
Sebagai muslim sejati, kita harus menerapkan hukum – hukum islam dalam keseharian. Karena hukum islam itu adalah hukum yang paling sempurna di muka bumi ini. Bahkan dalam hal yang paling kecil sekalipun, islam telah mengaturnya. Termasuk dalam hal memakai barang milik orang lain. Maka kewajiban kita adalam meminta ijin terlebih dahulu kepada si pemilik barang tersebut.
Bukankah sudah sering kita dengar di pengajian, kalau ada sebuah cerita dari seorang pemuda. Pemuda tersebut telah menemukan buah apel yang terjatuh dari pohonnya kemudian terhanyut ke sungai hingga sampai kepadanya ketika sedang istirahat di sungai. Namun karena saking laparnya, dia langsung saja memakan buah apel tersebut. Setelah kenyang, pemuda itu baru tersadar kalau dia baru saja memakan buah yang bukan menjadi haknya. Padahal dia itu menemukan buah apel tersebut di sungai yang jauh dari kebun apel. Akan tetapi dalam hati pemuda tersebut, dia merasa tidak nyaman dengan apa yang telah dimakannya itu.
Maka dicarilah si pemilik buah itu. Ditelusurinya sungai itu hingga sampailah dia pada kebun apel yang sangat luas sekali. Setelah bertemu dengan si pemilik buah itu, maka pemuda itu berbicara apa adanya kepada si pemilik buah tersebut. Bahwa dia telah memakan buah yang jatuh dari pohonnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Dan ternyata si pemilik buah itu tidak begitu saja mengikhlaskannya. Si pemuda itu terkejut, dan meminta maaf kepada si pemilik buah untuk mengikhlaskan buah yang telah dimakannya tersebut. Hingga akhirnya si pemilik buah tersebut mengajukan dua syarat baru dia nanti akan merelakan buah yang telah dimakannya tersebut. Syarat yang pertama adalah pemuda tersebut harus bekerja di kebunnya selama dua tahun tanpa upah sepeserpun, kecuali makan dan minum. Dan syarat yang kedua diberitahukan nanti ketika dia telah berhasil menyelesaikan tugasnya.
Dengan sabar dan ikhlas pemuda itu menjalankan masa kerjanya di kebun apel tersebut. Pemuda tersebut menjalankan itu semata – mata agar dia selamat dari memakan makanan yang haram. Dan luar biasanya, dia tidak pernah memakan sebiji buahpun dari hasil kebun yang dirawatnya. Karena memang tugasnya hanya merawat, tidak untuk menikmatinya. Setahun berlalu, hasil kebun apel tersebut semaki bertambah. Si empunya kebun senang sekali melihat pemuda tersebut. Hingga tingkah lakunya selalu diperhatikannya.
Akhirnya genaplah sudah dua tahun masa kerja pemuda tersebut di kebun apel. Kemudian dia menanyakan persyaratan kedua yang harus dipenuhi kepada si empunya kebun. Seketika itu pemuda itu diajaknya duduk di sebuah gubuk di kebun apel tersebut. Setelah itu si empunya kebun mengajukan persyaratan yang kedua. Yaitu dia menceritakan keadaan anaknya yang perempuan kepada pemuda tersebut. Dia bercerita bahwa dia memiliki anak gadis, akan tetapi hingga saat ini belum ada laki – laki yang melamarnya. Masalahnya anak gadisnya itu buta matanya, telinganya tuli, kakinya juga lumpuh. Dan dia ingin pemuda tersebut untuk menikah dengan putrinya yang cacat tersebut.
Sekali lagi pemuda tersebut tidak bisa menolak permintaan si empunya kebun tersebut. Dengan sedikit terpaksa dia mencoba untuk menerima permintaan untuk menikah dengan gadis yang diceritakan cacat tersebut. Tidak berapa lama pernikahanpun digelar. Saat akad nikah, anak gadisnya dibalut dengan baju yang lebar, mukanya ditutupi hingga tak terlihat. Setelah akan nikah selesai, malam harinya pemuda itu dipanggil untuk menghadap ayah mertuanya. Ayah mertuanya memberitahu bahwa istrinya sudah menunggu di rumahnya. Kebetulan rumahnya sudah disediakan di samping rumah mertuanya tersebut.
Dengan hati yang tidak karuan pemuda tersebut mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Akan tetapi tanpa di duga – duga ada suara wanita yang menjawab suara salamnya tersebut. Pemuda itu heran dan sedikit kaget. Ketika masuk ke kamar tidur, disana tiba – tiba ada sorang gadis yang cantik jelita. Seperti bidadari yang turun dari langit. Cuantiik luar biasa. Pemuda tersebut bukannya senang malah ketakutan melihat wanita tersebut. Setelah itu pemuda itu lari terbirit – birit menuju ke rumah mertuanya untuk menanyakan siapa yang ada di rumah itu sebenarnya. Ayah mertuanya sedikit menahan tawa, dia menceritakan bahwa wanita yang ada di kamar itu ya anaknya yang diceritakan itu. Dia itu adalah anak gadis yang buta, tuli, dan bisu itu. Maksud dari buta adalah dia tidak pernah melihat hal – hal yang diharamkan oleh Allah untuk dilihat. Maksud dari tuli adalah dia tidak pernah mendengar hal – hal yang diharamkan oleh Allah untuk di dengar. Maksud dari bisu adalah dia tidak pernah bicara kecuali seperlunya saja, itupun bicara hal yang baik – baik. Maksud dari lumpuh adalah dia tidak pernah melangkahkan kaki ke tempat maksiat.
Mendengar hal itu pemuda itu langsung aja lari menuju ke rumahnya dan menyambut istrinya yang secantik bidadari. Setelah itu pasangan tersebut hidup bahagia di dunia dan insya Allah di akherat. Pasangan yang sangat ideal dan serasi. Yakni antara pemuda yang sholeh dan wanita yang sholega. Dari pasangan mereka itu lahirlah pemuda yang terkenal hingga kini yakni Imam Syafi’i.
Dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa jika kita mengambil atau memakai barang milik orang lain, maka kita harus meminta ijin terlebih dahulu kepada pemiliknya. Jika tidak maka dikhawatirkan si pemilik barang tersebut tidak ikhlas dan kalau sudah begitu berarti kita telah melakukan dosa. Naudzubillah. Jangan berpikir bahwa teman kita tidak akan marah karena dia itu teman dekat kita. Siapa tahu dia juga sedang memerlukannya, bahkan untuk keperluan yan lebih penting dari kita. Apa tidak akan kesal namanya itu.
Apa susahnya sih sekedar meminta ijin kepada teman. Tinggal bilang saja kan sudah beres, tidak susah kok. Kuncinya adalah kita meminta ijin dahulu sebelum memakai barang orang lain. Entah dengan cara apa kita meminta ijin. Apa dengan telpon, apa dengan sms, atau apalah kan sekarang jaman sudah canggih. Jangan kita berpikir baik sangka, nanti saja minta ijinnya jika sudah selesai dipakai. Itu namanya bukan berbaik sangka, tapi namanya pencurian sementara, atau bisa dibilang pemaksaan, dan itu konyol.
Semoga catatan ini bermanfaat buat kita semua. Ini juga menjadi muhasabah buat diriku pribadi, juga buat teman – temanku sekalian. Marilah kita hidupkan kebersamaan yang harmonis. Marilah kita tingkatkan ukhuwah islamiyah kita. Sehingga dengan bersatunya umat islam, maka islam akan Berjaya di muka bumi ini. Dan marilah kita hidupkan kembali syariat islam, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang terkecil, hingga menjalar ke seluruh dunia. Hindari hal – hal yang dapat membuat kita menjadi terpecah belah. Sehingga rahmat islam bisa kita rasakan dan kita bawa kemanapun kita melangkah.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh..
Read more...

Wednesday, 27 June 2012

IRONI NEGERI INI

0 comments

Di sebuah pulau terdapat beberapa desa yang berjauhan satu sama lain. Pulau tersebut terkenal kering dan tandus. Tanahnya sulit sekali ditanami, air susah didapat hingga sumber makanan terkadang tidak didapat setiap hari. Berpuluh – puluh ribu tahun pulau tersebut mengalami hal yang demikian. Para warga desa di pulau tersebut seperti sudah putus asa merasakan penderitaan yang tak kunjung usai tersebut. Mereka tak tahu lagi harus bagaimana agar bisa terlepas dari keadaan buruk yang seperti itu.
Hubungan antar desa di pulau tersebut juga tidak harmonis. Satu desa dengan desa yang lain sulit sekali untuk saling berinteraksi dengan damai. Selain karena faktor jarak mereka yang sangat berjauhan, tapi juga kultur kebudayaan yang berbeda sering menjadi pemicu pertikaian. Peraturan dari setiap desa di pulau tersebut berbeda – beda, menambah ruwet hubungan diantara mereka.
Meskipun di tanah yang tandus dan sulit mencari sumber air serta makanan. Namun seperti sudah menjadi hukum alam, dimana ada beberapa suku disitu akan ada yang lebih berpengaruh. Yang lebih kuat yang berkuasa itulah seleksi alam. Diantara desa – desa tersebut seperti terbentuk kasta – kasta secara otomatis. Sehingga desa yang kuatlah yang bisa menguasai pulau tersebut. Di pulau tersebut memang ada salah satu desa yang sangat ditakuti oleh desa lain. Jika desa tersebut menginginkan sesuatu, maka desa lain harus memberikannya. Pemimpinnya sangat berwibawa dan teknologi di desa tersebut sudah lebih maju dari desa lainnya. Sebut saja desa yang berkuasa tersebut adalah desa Amrik.
Orang – orang di desa Amrik relatif lebih pintar dari orang di desa lainnya. Mereka memiliki pendidikan yang cukup dan kehidupan yang mewah. Namun untuk memenuhi standar kehidupan mereka dibuthkan sumber daya yang banyak. Kini di desa Amrik sedang mengalami kekurangan sumber utama yaitu Air. Air memang sangat dibutuhkan di pulau yang kering itu. Dan mereka sedang berusaha untuk mencari sumber air yang melimpah di pulau untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun mereka juga menyadari, bahwa semua desa di pulau tersebut sedang mengalami krisis yang serupa, yakni krisis air. Karena tanah di pulau itu terkenal kering dan tandus.
Ada hal yang menarik diantara berberapa desa yang terdapat di pulau tersebut. Disana ada sebuah desa yang tidak memiliki pengaruh besar kala itu. Warga desa tersebut memang tidak terlalu menyukai hal – hal yang berbau kekerasan. Mereka menganggap kekuasaan itu adalah hal yang sangat kejam. Karena kekuasaan identik dengan menindas yang lemah. Warga di desa tersebut sangat baik dengan sesama warga yang lain. Mereka juga sangat ramah dengan tamu dari desa yang lain. Tidak tampak di wajah mereka rasa benci terhadap orang lain.
Sebut saja desa yang warganya baik tersebut sebagai desa Nusia. Orang – orang di desa Nusia ini saking ramahnya kepada setiap orang, jika ada tamu berkunjung ke rumahnya maka segala apa yang mereka punya akan dikasihkan. Apa yang tamu inginkan pasti akan diberikan semampu mereka. Hal inilah yang menjadi daya tarik desa – desa lain untuk berkunjung ke desa Nusia tersebut. Sehingga banyak orang – orang dari desa asing yang masuk ke desa tersebut. Mulai dari orang yang hanya ingin berkunjung saja atau berwisata menikmati keramahan warga disitu. Hingga orang dari desa yang dianggap berkuasa di pulau tersebut juga datang kesitu.
Suatu ketika datanglah orang – orang dari desa yang berkuasa ke desa Nusia. Awalnya mereka hanya ingin sekedar bertamasya saja ke situ. Mereka tinggal untuk beberapa minggu disana dan mereka sangat senang dengan sambutan yang datang dari warga desa setempat. Hingga suatu hari, ketika orang – orang amrik sedang berjalan – jalan di sudut desa Nusia, mereka dikejutkan oleh sebuah temuan yang tidak di duga – duga sebelumnya. Di sudut desa tersebut mereka menemukan sumber mata air yang dibutuhkan oleh pulau tersebut selama ratusan tahun. Dan sumber mata air tersebut tidak akan pernah ada habisnya karena muncul dari pusat bumi langsung.
Melihat temuan itu orang – orang dari desa Amrik kemudian memberikan laporan kepada kepala desa Nusia. Orang – orang Amrik tahu betul bahwa orang – orang di desa Nusia sangat ketinggalan dalam hal pendidikan. Bisa dikatakan bahwa orang – orang desa Nusia itu masih bodoh karena belum mendapatkan pendidikan yang cukup. Mereka mendatangi kepala desa Nusia dan menceritakan apa yang diketemukannya tersebut. Mendengar hal tersebut, kepala desa Nusia sangat senang sekali. Akan tetapi dia kebingungan untuk mengelola sumber mata air tersebut. Dia merasa tidak bisa untuk mengelola sumber mata air yang berhaga tersebut, karena di desanya teknologi belum canggih dan orang – orang yang pintarpun belum banyak.
Melihat peluang yang sangat terbuka tersebut, orang – orang Amrik tidak tinggal diam. Orang – orang amrik menyadari betul bahwa sumber mata air tersebut akan sangat berguna bagi pulau tersebut dan terutama untuk menghidupi desanya agar tetap berkuasa di pulau. Akhirnya orang – orang dari desa Amrik tersebut menawarkan kerja sama dengan kepala desa Nusia. Orang Amrik tersebut menawarkan kerjasama untuk mengelola sumber mata air tersebut agar bisa dimanfaatkan. Mereka yang memiliki teknologi canggih dan peralatan yang memadai merasa bahwa hanya mereka yang bisa mengelola ini, sedangkan orang – orang dari desa Nusia tidak akan mampu mengelolanya. Dan kepala desa Nusia pun setuju.
Kontrak antara dua desa pun ditandatangani. Desa Nusia bekerjasama dengan desa Amrik untuk mengelola sumber air. Dalam perjanjian tersebut tertulis bahwa Desa Nusia menyediakan lahan sumber air dan Desa Amrik yang mengelolanya. Tidak hanya itu, Desa Nusia sekaligus menyediakan tenaga kerja “murah” yang siap untuk membantu memperlancar proses produksi. Dan orang – orang Amrik hanya cukup mengawasi pekerja dari desa Nusia untuk bekerja, karena mereka dianggap lebih pintar dan berpendidikan. Pengelolaan dimulai. Orang – orang amrik mulai mengirim peralatan – peralatan canggih ke desa Nusia. Orang – orang Nusia merasa kagum dengan peralatan yang tidak pernah dilihtanya itu. Akhirnya sumber mata air itupun digali dan dieksploitasi. Setelah di gali hasil dari sumber mata air tersebut dikirim ke desa Amrik. Semua hasil dikirim ke desa Amrik, berjuta – juta kontainer berdatangan silih berganti hanya untuk membawa hasil air tersebut ke desa Amrik. Desa Amrikpun terlihat semakin maju. Orang – orang disana tidak khawatir lagi akan kekurangan air. Karena air kini sudah lancar setiap hari didapatkan. Orang – orang Amrik sangat bahagia dengan hal ini.
Akan tetapi pemandangan berbeda terlihat di desa Nusia. Semakin tahun semakin digali sumber air tersebut, kehidupan orang – orang di desa Nusia tidak berubah. Bahkan mereka semakin menderita karena tidak mendapatkan pasokan air yang cukup. Kehidupan rakyat di sekitar sumber mata air malah lebih menderita lagi. Setelah rumah mereka tergusur karena harus dijadikan tempat galian air, mereka malah dilanda kekeringan karena sumber air mulai tersedot oleh alat – alat canggih orang Amrik. Melihat penderitaan warga desa Nusia semakin bertambah sementara desa Amrik semakin maju, akhirnya muncullah perasaan “terdzolimi” di benak warga desa. Mereka memprotes kepala desa agar segera memperbaiki taraf hidup masyarakatnya.
Mendapatkan laporan dari warga desanya, kepala desa Nusia merasa bertanggung jawab. Akhirnya didatangilah kepala desa Amrik. Mereka berunding tentang masalah kesejahteraan warga desa Nusia yang semakin menderita karena seluruh hasil buminya dibawa ke Amrik. Tapi karena orang Amrik lebih pintar daripada orang Nusia akhirnya kepala desa Nusia dibodohi. Amrik tidak mau memperbaharui perundingan hanya saja si kepala desa Nusia tersebut beserta pejabat desa lainnya akan mendapatkan fasilitas lengkap dari Amrik. Mereka akan mendapatkan “beberapa persen” keuntungan dari hasil bumi tersebut. Dan mereka akan hidup makmur.
Kepala desa Nusia yang bodoh itu mau saja dengan semua itu. Dan memang benar para pejabat mendapatkan fasilitas dan uang yang melimpah. Mereka semakin kaya dan keluarganya semakin makmur. Namun rakyatnya malah semakin menderita. Rakyatnya tidak bisa berbuat banyak. Kepala desa memutuskan bahwa rakyatnya akan mendapatkan air yang diinginkannya tapi dengan syarat harus “beli”. Mau tidak mau rakyat desa Nusia membeli air dari pemerintah. Mereka membeli air tersebut dari pom – pom air yang sudah disediakan.
Awalnya warga desa Nusia masih bisa memenuhi kebutuhan mereka tersebut dengan membeli air di pom. Namun dari tahun ke tahun harga air semakin meningkat. Dengan dalih produksi yang mahal, mereka menaikkan harga jual air kepada masyarakat. Masyarakat mulai kebingungan lagi. Mereka banyak yang tidak mampu untuk membeli air yang semakin mahal itu. Warga desa Nusia banyak yang tersiksa, bahkan banyak yang meninggal karena tidak bisa mendapatkan air yang dibutuhkan.
Sementara kepala desa dan jajarannya tidak mempedulikan mereka. Mereka hidup bersenang – senang diatas penderitaan rakyatnya. Mereka lupa bahwa masyarakat telah mengamanahkan kepemimpinan kepada mereka untuk memakmurkan kehidupan desa. Namun nyatanya, karena kebodohan mereka, mereka malah menjual aset milik desa kepada desa Amrik.
Orang – orang amrik merasa mendapatkan harta karun yang sangat berharga dari desa Nusia. Mereka sekarang hidup makmur dengan air yang cukup. Bahkan mereka hidup bermewah – mewahan dengan menghambur – hamburkan air yang didapatkan dari desa Nusia. Mereka telah merampas hak – hak warga desa Nusia. Dan sekarang mereka menikmati hasil rampokkan mereka.
Di sisi lain. Warga desa Nusia semakin hari semakin menderita. Bahkan ada yang sampai mati karena kekurangan air tersebut. Ironis sekali, air yang berada di desanya malah diambil oleh desa lain. Dan yang membuat miris lagi, warga desa setempat harus membeli air yang sebenarnya adalah hak milik mereka. Seharusnya mereka mendapatkan air itu secara gratis dan Cuma – Cuma karena ini adalah milik mereka. Namun kini mereka harus bayar kepada asing untuk mendapatkan setetes air milik sendiri.


--//////////-\\\\\\\\\\\--



Itulah sekelumit kisah nyata dari peradaban dunia saat ini. Dimana kapitalisme telah merongrong negara – negara yang memiliki sumber daya alam yang banyak. Mereka mengeruk sumberdaya alam tersebut dan membawanya ke negeri – negeri mereka. Mereka menjajah dengan penjajahan gaya baru yakni demokrasi kapitalisme. Jika kita membuka mata kita maka desa “Nusia” di atas adalah negeri kita yaitu Indonesia, dan desa “Amrik” itu tidak lain adalah amerika.
Kita sama – sama tahu bahwa sumber kekayaan negeri kita Indonesia begitu melimpah, mulai dari darat sampai lautan. Bahkan perut bumipun mengandung emas dan uranium serta barang – barang tambang lain. Sumber daya alam itu tidak dimiliki oleh negeri – negeri manapun di bumi ini. Negeri Indonesia adalah surga dunia yang kaya akan sumber daya alam. Negeri Indonesia adalah negeri terkaya di bumi ini yang Allah ciptakan. Tidak ada yang menyamai kekayaan negeri ini.
Namun karena kebodohan dari para pemimpin negeri ini. Maka kekayaan itu mereka “berikan” kepada para penjajah kapitalisme terutama Amerika. Ingat satu kata kekayaan alam Indonesia “Diberikan” apa?? “Diberikan” secara Cuma – Cuma kepada penjajah Amerika. Sungguh tidak masuk akal sekali pemimpin negeri ini. Mereka hanya diberikan “secuil” kekayaan dari hasil bumi Indonesia saja sudah luluh hatinya. Padahal hanya dengan “secuil” harta itu (yang diambil dari kekayaan indonesia) mereka bisa menghidupi keluarganya hingga tujuh turunan.
Itulah gambaran pemimpin “boneka” dari sistem demokrasi yang diterapkan indonesia. Pemimpin boneka macam itu tidak akan mungkin memikirkan rakyatnya. Yang mereka pikirkan hanyalah “perut” pribadi dan keluarganya saja. Karena mereka hidup hanya untuk melayani “tuan” nya saja yakni Amerika.
Coba sadari,, sumber daya alam kita melimpah, minyak bumi juga banyak, batu – bara melimpah, gas alam ndak ada habisnya. Tapi kita disuruh “membeli” semua itu jika kita ingin menikmatinya. Padahal sumber daya itu milik kita indonesia, namun rakyat indonesia harus membelinya. Alasan mereka adalah produksi yang mahal. Padahal untuk memproduksi atau mengolah satu liter bensin misalnya, kita hanya butuh Rp. 800,00 tidak nyampai seribu. Tapi kita harus membelinya berkali – kali lipat.
Itu semua karena kita harus membelinya dari luar negeri. Sangat tidak masuk akal, kita yang punya bahan baku, trus bahan baku itu kita berikan ke luar negeri untuk diolah. Setelah jadi, kita yang punya bahan baku malah disuruh beli. Sungguh tidak masuk akal.
Itulah hakikat sistem kapitalisme. Kapitalisme tidak menghendaki rakyat untuk hidup makmur. Kapitalisme menghendaki semua hal di dunia ini harus dibeli. Dalam rumus kapitalisme menyebutkan “tidak ada yang tidak bayar” ini artinya semua hal harus kita beli dengan uang. Dengan begitu maka hanya yang punya modal lah yang bisa berkuasa. Yang tidak punya uang tetap hidup dalam lingkaran setan kemiskinan yang sudah tersistem. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Akankah kita diam saja dengan keadaan yang seperti ini??
Indonesia... harus bisa bangkit. Indonesia harus mampu keluar dari lingkaran kapitalisme busuk. Sistem kapitallisme yang selalu merugikan rakyat kecil.
Tentunya tidak dengan Demokrasi!! Karena sejatinya, demokrasi adalah anak emas dari kapitalisme.

Wallohu a’lam.






Read more...

Tuesday, 26 June 2012

PARODI KEHIDUPAN DUNIA

0 comments

Di sebuah kota hiduplah dua keluarga yang saling berdampingan. Desa itu merupakan desa yang sangat luar biasa. Penduduknya semuanya pekerja keras. Mereka rajin bekerja, peras keringat banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi ada fenomena yang berlainan di antara dua rumah yang saling berdampingan tersebut. Rumah yang satunya sebut saja itu rumahnya pak cipluk (bukan nama sebenarnya), dan yang rumah satu lagi sebut saja rumahnya pak hasan (bukan nama sebenarnya).
Pak cipluk adalah seorang pekerja keras. Sepertinya hoby pak cipluk adalah bekerja sehingga dia tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika bekerja. Karena semangatnya dan kerja kerasnyalah pak cipluk berhasil membeli rumah sendiri. Rumah pak cipluk tergolong mewah, karena rumahnya itu luas, memiliki banyak kamar dan ada dua tingkat. Fasilitas di dalam rumahnya juga lengkap. Ada AC, tivi, kulkas, dan macam – macam barang lain.
Sedangkan pak hasan adalah seorang penceramah di masjid – masjid. Kerjanya setiap hari adalah keliling masjid di perkotaan untuk memberikan pencerahan dan dakwah. Rumah pak hasan tergolong rumah yang sederhana. Rumahnya tidak besar sebesar rumah pak cipluk. Kamarnya hanya ada dua dan temboknya juga belum di plester semua. Fasilitas di dalamnya juga cuman ada radio kuno dan lemari pakaian keluarga, itu saja.
Roda kehidupan terus saja berputar. Hari demi hari tahun demi tahun terus saja berganti. Anehnya kedua tetangga itu tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka hanya saling sapa ketika berpapasan dua arah saja. Dan itupun cuman dihiasi senyuman kecil saja tanpa sepatah katapun. Sebenarnya pak hasan ingin sekali bersilaturrahim ke tempat pak cipluk. Tapi memang pak cipluk itu setiap harinya selalu sibuk sehingga selalu tidak ada waktu buat para tetangganya.
Setiap hari pak cipluk berangkat kerja jam 5 pagi setelah adzan subuh berkumandang. Karena tempat kerja yang jauh dari rumah sehingga pak cipluk harus cepat – cepat berangkat. Dia relah untuk mengorbankan sholat subuhnya demi mengejar target datang ke tempat kerja tidak terlambat. Ya meskipun terkadang dia sholat subuh di jalan. Sepulang dari kerja pak cipluk sampai di rumah biasanya jam 18.00. setelah sholat maghrib pak cipluk tidak lantas beristirahat sejenak. Karena saking hobinya bekerja maka pak cipluk merasa tidak nyaman jika tidak beraktivitas. Akhirnya apapun dilakukannya. Mulai dari mengecat rumah, memperbaiki tembok yang rusak, memperbaiki jendela dan lain – lain. Kegiatan itu berlangsung terus menerus sepanjang hari. Pernah suatu ketika pak hasan pulang dari mengisi pengajian pada malam hari sekitar jam 23.00, dan ternyata pak cipluk masih beraktivitas dalam memperbaiki rumahnya. Subahanallah,,, pak cipluk memang pekerja keras. Seolah – olah rumahnya itu masih belum selesai dikerjakannya. Pokoknya adaaa saja yang diperbaiki dari rumahnya itu. Padahal rumahnya sudah tergolong rumah yang mewah dan sempurna. Tapi pak cipluk masihhh saja mengurusi rumah itu. Hingga lupa kewajiban beribadah kepada Allah. Lupa bersilaturrahim dengan tetangga. Dan lain sebagainya. Yang menjadi perhatian pak cipluk hanyalah bagaimana agar rumahnya itu selalu di perbaiki.
Di sisi lain, pak hasan seolah tidak perduli dengan keadaan rumahnya. Dia beserta istrinya itu terlihat jarang sekali memikirkan masalah rumah. Mungkin karena biaya perbaikan yang mahal dan pendapatan pas – pasan atau karena hal lain. Yang pasti pak hasan bukannya malas untuk mengurus rumah, karena rumahnya selalau bersih dan elok dilihat. Tapi perhatian pak hasan hanyalah tentang dakwah dan mengurusi orang banyak.
Pak hasan tidak seperti pak cipluk yang selalu ingin menyempurnakan bentuk rumahnya. Karena pakh hasan tau bahwa keadaan rumah tidak mungkin akan sempurna. Pak hasan sadar bahwa buatan manusia itu tidak mungkin sempurna, pasti ada kekurangannya terus,, termasuk rumah itu. Oleh karena itulah pak hasan tidak terlalu pusing – pusing memperindah rumahnya itu, yang penting bersih dan suci itu saja sudah cukup. Dan pak hasan bisa lebih fokus untuk mengurusi problematika umat daripada sibuk mengurusi rumah yang tidak bisa dibawa kemana – mana.
Suatu ketika tanpa di duga – duga bencana alam melanda kota tempat mereka tinggal. Gempa bumi sebesar 7.8 skala richer menerjang kota yang begitu asri. Kejadian itu berlangsung begitu cepat ketika semua penduduk kota sedang tidur pulas. Seluruh tatanan kota hancur, jalanan aspal retak, gedung – gedung pada retak, sebagian ambruk. Rumah – rumah warga juga tak bisa terhindar dari amuk bumi tersebut. Termasuk rumah dari pak cipluk dan pak hasan. Kedua rumah tersebut tersapu rata dengan tanah tanpa tersisa sedikitpun yang berdiri. Seluruh penghuni kedua rumah tersebut tidak ada yang selamat.
Pak cipluk ditemukan tewas di tengah puing – puing rumahnya bermandikan cat warna merah darah. Di tangannya memegang kuas dan ember kecil berisi cat yang masih basah. Sedangkan pak hasan ditemukan tewas di tengah – tengah reruntuhan bangunan sederhana. Dia terlihat sedang sujud di atas sajadah bergambarkan ka’bah berwarna merah.
--Selesai--
Read more...

Thursday, 15 December 2011

Sekilas Jakarta

0 comments
Hari ini aku baru saja mendapatkan pelajaran yang sungguh berharga. Sewaktu habis sholat ashar tadi sore tiba – tiba ada seorang laki – laki yang sudah berumur tengah bingung. Laki – laki itu kalang kabut ketika mendapati bahwa tas yang dibawanya ketika sholat ashar tadi kini telah tiada. Sontak saja suasana di dalam masjid menjadi sedikit gaduh. Awalnya aku juga tidak tahu kenapa ada kegaduhan selesai sholat ashar, tapi setelah aku cari tahu ternyata begitu kejadiannya. Tas yang berisi surat – surat berharga telah diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Laki – laki itu tidak dapat berbuat apa – apa selain duduk menangis dan menyesalkan kejadian ini. Dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi, sudah tidak berdaya dan hanya bisa pasrah. Dia tidak pernah menyangka ada orang yang setega itu kepadanya. Aku dan orang – orang yang lain hanya bisa bersimpati tanpa bisa berbuat apa – apa juga. Karena sudah tidak ketahuan siapa yang mengambilnya. Hanya rasa kasihan dan doa saja yang bisa aku berikan kepada laki – laki itu.

Melihat kejadian seperti itu tentu menjadi hal yang tidak wajar bagiku, apalagi kejadian pencurian ini terjadi di masjid yang cukup megah dan banyak jamaah. Akan tetapi ketika berada di luar lingkungan masjid mungkin ini sudah menjadi hal yang biasa. Ketika aku mencoba konfirmasi kepada beberapa orang, ternyata kejadian pencurian seperti itu sudah kerap terjadi di masjid ini. Makanya petugas keamanan sebenarnya sudah memberikan pengarahan agar barang bawaan jangan ditaruh sembarangan, karena meskipun ini masjid tapi pencurian tetap saja bisa terjadi, begitu kata pak satpam.

Jika melihat kejadian seperti itu aku jadi teringat ketika aku berada di masjid besar di kawasan kemayoran. Pada saat itu hari jumat, aku hendak sholat di masjid yang cukup megah di situ. Tanpa piker panjang aku langsung saja masuk kedalam masjid itu setelah sebelumnya mengambil air wudhu. Pada saat itu perasaanku biasa – biasa saja tidak ada feeling apapun. Ketika selesai sholat jumat aku bermaksud untuk melanjutkan perjalanan, namun ketika aku mau memakai sepatuku, ternyata sepatuku itu sudah tidak ada di tempat. Aku sempat menunggu untuk beberapa lama sambil mencari – cari, siapa tahu ada yang keliru memakai sepatu, namun tidak ada hasil juga. Akhirnya aku pulang dengan tanpa alas kaki. Innalillahi wa innailaihi raajiun..

Jakarta memang kota yang sangat luar biasa. Kita mau mencari apapun di kota ini pasti ada. Dari yang baik – baik sampai yang buruk – buruk juga ada, bahkan biangnya keburukan juga ada disini. Kejahatan di Jakarta sudah luar biasa merajalela, hingga merambah ke tempat – tempat ibadah. Padahal tempat ibadah seharusnya diisi oleh orang – orang yang hatinya lurus – lurus dan baik – baik. Tapi pada faktanya di Jakarta ini kejahatan tidak memandang pada tempatnya. Banyak orang yang selalu bilang bahwa “Jakarta itu lebih kejam daripada ibu tiri”, mungkin ucapan itu ada benarnya. Karena memang di ibu kota ini sudah tidak bisa di tebak mana tempat yang aman dan mana yang tidak.

Tapi jika dipikir – pikir lagi, kenapa kejahatan di Jakarta bisa menjadi sedemikian akutnya. Ternyata menurut pengamatanku yang selama ini aku lihat. Di Jakarta ini sudah terlalu banya penduduk yang pengangguran, kemudian banyak anak – anak muda yang putus sekolah, banyak anak – anak muda yang tidak ngaji, dan lain sebagainya. Semua itu sudah menumpuk dan menggunung di Jakarta ini. Sehingga kejahatan dan kriminalitas sudah tidak bisa dihindari lagi. Dengan banyaknya anak – anak yang putus sekolah dan pengangguran di Jakarta dan juga lapangan pekerjaan yang sudah tidak memadai lagi, maka akan semakin banyak orang – orang yang pusing memikirkan kelangsungan hidupnya.

Sudah banyak orang – orang yang dermawan yang peduli terhadap mereka – mereka ini, akan tetapi semua itu belumlah mampu untuk mengurangi angka kriminalitas di Jakarta ini. Sebenarna apa yang menjadi akar permasalahan dari semua kejadian ini? Maka dari sini kita harus melihat pada fakta – fakta yang terjadi di Jakarta ini. Faktanya kehidupan di Jakarta ini adalah sangat sulit bagi mereka yang miskin dan pengangguran. Faktanya sekolah di Jakarta ini sangat mahal, sehingga banyak anak yang putus sekolah atau bahkan tidak mampu untuk menginjakkan kaki di sekolah. Meskipun ada dana ini dan itu, tapi faktanya sekolah tetap harus bayar mahal dan tidak terjangkau mereka – mereka yang miskin. Faktanya untuk berobat orang miskin sangat sulit untuk masuk ke rumah sakit, seolah – olah orang miskin itu dilarang untuk sakit. Jika sakit maka minum obat “warung” yang ada labelnya “jika sakit berlanjut maka hubungi dokter” tapi dokter yang mana yang mau dihubungi oleh pasien yang miskin??. Itu adalah beberapa fakta yang terjadi dari jutaan fakta di Jakarta ini.

Seolah – olah Jakarta ini tidak ada yang mengatur lagi. Tidak ada campur tangan pemerintah dalam menangani semua ini. Kalaupun ada maka campur tangan itu hanya sedikit sekali ketimbang sewasta. Sungguh ironis sekali. Jadi sebenarnya pemerintahlah yang seharusnya berperan dalam mengangani masyarakat Jakarta yang carut – marut ini. Solusinya adalah terapkanlah system yang terbaik yang ada di muka bumi ini. Terapkanlah system yang pasti mampu untuk mensejahterakan rakyatnya, sehingga mereka tidak akan berbuat dosa dan merugikan orang lain. Terapkanlah system hokum yang membuat pelakunya jera dan tidak mengulanginya lagi. Sehingga tidak ditemukan pencurian – pencurian lagi, tidak ada yang namanya perampokkan lagi, tidak ada penipuan lagi, Jakarta akan jadi kota yang aman tanpa kejahatan dimana – mana. Itu jika kita menerapkan system yang terbaik yang pernah ada.

Tentunya system itu bukanlah system yang dibuat oleh manusia. Karena secerdas apapun manusia, maka dia tidak mungkin dapat membuat system yang bisa mengatur manusia yang berjumlah banyak. Tentu bukanlah demokrasi kapitalisme yang hanya berpihak pada mereka yang punya uang saja, sementara rakyat miskin ditindas terus menerus. Tentu juga bukan komunisme yang menafikkan keberadaan tuhan dan menerapkan aturan yang hanya berorientasi kepada materi belaka. System yang terbaik itu adalah system syariat islam. Karena syariat islam adalah aturan yang datang dari pencipta manusia dan alam semesta yang pasti benarnya. Tentu menerapkan syariat islam tidak bisa setengah – setengah seperti yang terjadi di negeri arab, sehingga disana masih terdapat banyak kejahatan. Syariat islam harus dijalankan secara kaffah. Sehingga akan terasa rahmat dari Allah. Dan syariat islam kaffah hanya bisa diterapkan melalui Daulah atau Negara yaitu Negara Khilafah. Jadi solusi dari semua itu adalah penerapan syariat islam dalam bingkai daulah khilafah.

Read more...